Petani Purwakarta Beralih ke Padi Organik, Ini Lho Keuntungannya

Petani Purwakarta Beralih ke Padi Organik, Ini Lho Keuntungannya



INILAH, Purwakarta - Sejumlah petani di Kabupaten Purwakarta, terus berinovasi. Saat ini, banyak di antara mereka mencoba peruntungan baru, yakni beralih dari pertanian konvensional ke pertanian organik.
 
Alasan mereka, selain produk padi yang dihasilkannya lebih sehat, keuntungannya pun cukup besar dibanding pertanian konvensional yang menggunakan pemupukan secara kimia.
 
Adang (56), warga Desa Nagrak, Kecamatan Darangdan, adalah salah satu petani yang saat ini beralih ke pola pertanian organik itu. Belum lama ini, Adang bersama Kelompok Tani Siliwangi yang ada di desanya telah melakukan panen musim rendeng 2019.
 
Hasil panen musim rendeng 2019 ini ternyata membawa angin segar bagi mereka. Pasalnya, padi organik yang dihasilkan dari pertanian mereka cukup melimpah. Rata-rata, produktivitasnya mencapai 6,5 ton per hektare. 
 
"Alhamdulillah, hasil panen kali ini cukup melimpah,"ujar Adang kepada INILAH, Kamis (4/4/2019).
 
Adang mengaku, para petani di wilayahnya tak menjual hasil panennya ini dalam bentuk gabah. Melainkan, sudah berbentuk beras. Alasannya, harga gabah saat ini di kisaran Rp 4.700 sampai Rp 5.000 per lilogram. 
 
“Kalau dijual dengan kondisi masih gabah harganya relatif kecil. Kami akan merugi. Karena, harga beras organik jauh lebih mahal ketimbang dijual dalam bentuk gabah, yakni Rp 17-20 ribu per kilogramnya,” jelas dia.
 
Dia menjelaskan, saat ini pasar untuk beras organik sudah sangat terbuka lebar. Salah satunya, melalui kemitraan dengan Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta. Jadi, konsumen beras organik ini selalu ada. Bahkan, permintaannya cukup tinggi.