NU DKI: Ulama Harus Edukasi Warga Pahami Kebijakan Hadapi Pandemi

NU DKI: Ulama Harus Edukasi Warga Pahami Kebijakan Hadapi Pandemi
Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Samsul Ma’arif. (antara)



INILAH, Bandung - Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Samsul Ma’arif meminta para tokoh masyarakat dan ulama mengedukasi rakyat agar memahami kebijakan yang diterapkan pemerintah untuk menghadapi pandemi Covid-19.

“Saya juga berharap bahwa tokoh masyarakat dan agama di DKI Jakarta untuk tidak mengeluarkan pandangan yang memicu adanya sikap acuh tak acuh dari masyarakat terhadap bahaya pandemi ini,” kata KH Samsul Ma'arif saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Lebih lanjut, Samsul menuturkan saat ini umat Islam merayakan Idul Adha di tengah pandemi Covid-19 yang dapat dijadikan simbol kebersamaan dan ketulusan antarumat.


Samsul mengatakan kebersamaan dan ketulusan ada hal yang sangat penting dipegang teguh oleh setiap individu dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi pada saat ini kondisi wabah Covid-19 masih menghambat kegiatan masyarakat umum.

“Jadi Idul Adha itu ada dua hal penting, pertama adalah sebagai simbol kebersamaan bahwa manusia semuanya sama, tidak ada yang lebih hebat. Sebagai simbol kebersamaan manusia tidak boleh sombong. Kita hilangkan sifat-sifat egois yang tidak baik,” kata Samsul.

Sementara itu, simbol kurban, menurut Samsul menandakan sikap ketulusan yang mesti diaktualisasikan secara nyata menerima kondisi saat ini. Kemudian yang kedua adalah simbol kurban, yaitu bentuk ketulusan untuk mengatasi keadaan pandemi saat ini.

Samsul juga menambahkan pandemi Covid-19 sebagai momen introspeksi diri sehingga tidak perlu adanya rasa pesimis terhadap kondisi sekarang.

Dia juga meyakini bila wabah Covid-19 berlalu, masyarakat akan makmur dan sejahtera. “Untuk sementara memang tidak enak, tapi yakinlah bahwa suatu saat nanti kita akan menikmati hasilnya,” ujar dia.

Sebelumnya, PWNU Jakarta juga turut mensosialisasikan kepada warga terutama para Nahdliyin di DKI agar Shalat Idul Adha dan takbiran dilakukan di rumah masing-masing.

“Kalau pun ada di Masjid, ya cukup pengurusnya saja. Jangan ada yang takbir keliling. Mari kita jadikan rumah masing-masing sebagai Masjid,” kata dia. (antara)