Pimpinan DPRD Angkat Suara soal Dampak Proyek Double Track

Pimpinan DPRD Angkat Suara soal Dampak Proyek Double Track
Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Dadang I Danubrata angkat suara. (rizki mauludi)



INILAH, Bogor - Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Dadang I Danubrata angkat suara soal proyek double track karena telah menimbulkan beberapa kerugian untuk masyarakat Kota Bogor. Terbaru, diketahui proyek double track menyebabkan bocornya pipa 1.000 milimeter (mm) milik Perumda Tirta Pakuan di Jalur Intake Ciherang Pondok-IPA Dekeng sehingga puluhan ribu warga Kota Bogor kesulitan mendapat pasokan air bersih.

Dadang menilai, kecelakaan kerja di proyek double track tersebut merupakan yang paling parah. Ia mencatat, sudah beberapa kali terjadi kecelakaan kerja di proyek tersebut, seperti longsor di Jalan Raden Saleh, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, atau di KM 2+225; longsor di Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, atau di KM 3+100; serta longsor di Kelurahan Batutulis KM 3+300 pada April lalu.

"Kemudian pada awal Juni lalu, alat berat berupa crane milik proyek double track terguling dan hampir menimpa rumah warga sekitar. Dari semua kelalaian yang terjadi, sekarang adalah yang paling parah karena terjadi kebocoran pipa Tirta Pakuan akibat tertimpa material di lokasi pengerjaan proyek. Sehingga, menyebabkan hampir seluruh warga Bogor tidak bisa menikmati air bersih dalam beberapa hari," ungkap Dadang kepada wartawan, Kamis (22/7/2021).


Dadang menambahkan, seharusnya kecelakaan kerja yang demikian tidak perlu terjadi, jika pihak kontraktor berhati-hati dalam mengetahui titik-titik sarana vital. Selain pipa air milik Perumda Tirta Pakuan, diketahui terdapat saluran milik PLN, PGN, dan Telkom.

"Atas peristiwa ini, Pemkot Bogor jangan diam saja dan sudah waktunya membuat surat resmi ke PT Kereta Api Indonesia (KAI). Dengan tujuan agar PT KAI menegur para kontraktor, bahkan mengganti kontraktor jika diperlukan. Sebab, kejadian kecelakaan kerja yang merugikan warga Kota Bogor sudah terjadi berulang-ulang. Wajar jika pemkot bersurat karena untuk menghindari hal yang lebih buruk terjadi lagi ke depannya," bebernya.

Dia mengaku prihatin dengan kejadian yang dialami warga Kota Bogor. Apalagi, kerusakan pipa tersebut mengakibatkan 70.000 pelanggan mengalami kesulitan air bersih selama lebih dari 24 jam. Dirinya meminta kontraktor untuk lebih berhati-hati dan profesional, serta mengutamakan keselamatan kerja, baik untuk pegawai di lapangan, masyarakat, serta lingkungan sekitar.

"Kontraktor harus mengutamakan keselamatan kerja, baik untuk pegawai lapangan, masyarakat, dan lingkungan di sekitar proyek. Juga untuk fasilitas-fasilitas vital yang ada di lingkungan proyek. Seperti pipa PDAM, kabel dan tiang listrik, instalasi gas alam, ataupun kabel atau menara telepon," jelasnya.

Terpisah, Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor Rino Indira Gusniawan menjelaskan, hingga saat ini Perumda Tirta Pakuan masih berupaya melakukan normalisasi pengaliran, dengan membuang udara yang terjebak di dalam pipa melalui saluran-saluran pembuangan (wash out) yang tersedia. Oleh karena itu, beberapa tempat di Kota Bogor masih mengalami gangguan pasokan air bersih.

Oleh karena itu, lanjut Rino, pihaknya mengimbau agar pelanggan tetap menampung air saat masih mengalir, hingga pasokan kembali pulih. Saat ini, Perumda Tirta Pakuan masih menyiapkan armada tangki untuk suplai air gratis bagi pelanggan. "Tercatat, ada 27 tangki air yang sudah disuplai ke warga terdampak," pungkasnya. (rizki mauludi)