Wisudawan Termuda: Orang ITB Itu pada Aneh-aneh

Wisudawan Termuda: Orang ITB Itu pada Aneh-aneh



INILAH, Bandung – Musa Izzanardi Wijanarko jadi wisudawan termuda Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia bilang orang ITB itu pada aneh-aneh.

Izzan sendiri mulai kuliah di ITB pada 2017. Sebelumnya, dia merupakan siswa homeschooling. Izzan belum pernah mengikuti sekolah formal. 

Adaptasi belajar di kelas lantas terasa aneh bagi Izzan. Namun, belajar di kelas tetap menyenangkan. Izzan bisa bertemu orang-orang baru dengan gaya pikir dan ketertarikan yang unik.


“Memang orang di ITB pada aneh-aneh. Tetapi tidak apa-apa karena saya juga orang aneh,” ucap Izzan, Kamis (22/7/2021).

Selama kuliah, Izzan mendapat wejangan dari teman sekelas dan juga kakak angkatan. Mereka berpesan agar Izzan tidak lupa bersosialisasi. 

Izzan pun memutuskan untuk mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Genshiken ITB. Menurutnya, UKM itu sesuai dengan hobinya.

Izzan sendiri tidak begitu tertarik dengan lomba-lomba sehingga dia menghabiskan waktunya untuk berorganisasi. Dia pernah menjadi Ketua Bidang Medkominfo Genshiken ITB periode 2019/2020, Ketua Divisi Logistik Genshiken Staff Training Genshiken ITB 2019, dan Ketua Divisi Megaproperti Wisuda Juli HIMATIKA ITB 2019.

Izzan lulus dari ITB dalam usia 18 tahun 8 bulan. Dia jadi wisudawan termuda di Kampus Ganesha itu.

Menjadi sarjana, Izzan, sapaan akrab Musa Izzanardi Wijanarko, merupakan mahasiswa Program Studi Matematika di Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB. Dia memilih Program Studi Matematika karena senang dengan matematika sejak kecil. Izzan memilih ITB setelah orang tua dan kakaknya juga berkuliah di sana.

Motivasi Izzan untuk lulus pada usia yang sangat muda sebenarnya sama dengan motivasi yang dimilikinya pada usia 14 tahun. Izzan sempat merasa pelajaran SMA tidak menarik sehingga membuatnya ingin segera berkuliah di ITB. 

Saat kuliah, dia berencana untuk lulus dalam empat tahun. Dia berusaha untuk mewujudkannya.

Izzan mampu sampai ke titik ini karena dukungan dari keluarga dan saudara yang selalu mendukung pilihannya. Terlebih lagi, Izzan merasa teman-teman seperkuliahan juga baik dan asyik diajak bermain. Mereka selalu menghibur di kala terpuruk.

Perjuangan Izzan sebenarnya sama seperti mahasiswa biasanya. Dia kerap kehilangan motivasi sesudah ujian tengah semester, yang membuatnya jadi jarang belajar dan tidak fokus, serta mengakibatkan nilai ujian akhir semester turun. 

“Kuliah memang berat bagi mereka yang tidak bisa mengatur waktu dan diri dengan baik, termasuk saya,” katanya.

Untungnya, Izzan berhasil melalui naik-turun masa kuliah. Setelah lulus, hidupnya memang masih menjadi misteri. Dia bertanya-bertanya tentang masa depannya. Izzan berharap bisa menemukan sesuatu yang diinginkannya. (Okky Adiana)