DPRD Jabar Dorong Pemprov Maksimalkan Medsos dalam Promosi Pariwisata

DPRD Jabar Dorong Pemprov Maksimalkan Medsos dalam Promosi Pariwisata
net



INILAH, Bandung - Sekretaris Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat Yunandar Rukhiadi Eka Perwira meminta kepada Pemprov Jabar untuk tetap gencar melakukan promosi pariwisata meski di tengah pandemi Covid-19.

Salah satunya kata dia adalah dengan memaksimalkan media sosial, dalam menyampaikan informasi terkait pariwisata Jawa Barat. Seperti yang sudah dilakukan oleh negara lain, dalam menggenjot wisatawan untuk berkunjung ketika pandemi usai.

"Saya sering mendapatkan iklan di media sosial untuk berwisata di Singapura. Padahal saat ini Singapura belum membuka tempat wisata," ujarnya belum lama ini.


Menurutnya hal tersebut dapat dicontoh, sebab dia menilai ini mengindikasikan para pelaku pariwisata di luar negeri tetap berpikir mencari solusi berinvestasi di masa mendatang. Sehingga ketika pariwisata dibuka kembali, wisatawan ingat untuk berkunjung.

"Artinya ini pemerintah atau pelaku pariwisata tetap menjaga wisatawan agar ingat dengan Singapura. Minimal melalui media sosial mengabarkan kondisi pariwisata di negara tersebut," ucapnya.

Yunandar menambahkan, momentum sekarang adalah saat yang tepat untuk gencar berpromosi wisata. Apalagi tidak lama lagi, akan ada kereta cepat yang dapat menjadi salah satu alternatif transportasi bagi wisatawan kala mengunjungi titik-titik wisata di Jawa Barat.

Dia berharap, moda transportasi tersebut dapat dimaksimalkan dengan baik oleh pemerintah daerah dalam menggenjot kunjungan wisatawan ke lokasi wisata di Jawa Barat. Dimana nantinya turut mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), dari sektor pariwisata.

"Wisata Jabar di dominasi oleh wisatawan domestik. Jadi kita harus terus melakukan promosi ke wilayah lain apalagi kereta cepat juga akan hadir. Itu yang saya lihat tidak ada pemikiran ke sana. Kita harus manfaatkan itu. Kalau pemerintah tidak memfasilitasi, efek ekonominya akan terlambat. Mungkin akan terjadi lima tahun ke depan," jelasnya. (Yuliantono)