Alberts Kapok Susun Program Persib, Liga 1 Nggak Jelas

Alberts Kapok Susun Program Persib, Liga 1 Nggak Jelas



INILAH, Bandung - Pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts mengaku "kapok" untuk menyusun program timnya dalam menghadapi Liga 1 2021-2022. Pasalnya, kompetisi kasta tertinggi di Indonesia itu hingga kini belum menemui kejelasan. 

PSSI maupun PT Liga Indonesia Baru (LIB) masih belum menjadwal ulang kompetisi yang sedianya akan digelar 9 Juli. Sempat memutuskan untuk menggelar akhir Agustus, namun hal itu baru sebatas wacana.

"Tidak ada rencana yang kami persiapkan. Sudah ada banyak rencana dibuat sejak Maret tahun lalu. Kami beberapa kali membuat rencana baru. Orang-orang tidak mengerti bahwa sepak bola adalah membangun sesuatu, bukan hanya bicara tidak berhenti bermain 1,5 tahun lalu langsung melompat pada kesimpulannya," kata Robert saat dihubungi. 


Pelatih asal Belanda ini merasa saat ini dalam situasi yang kompleks. Sebab ini bukan hanya latihan sepak bola atau tidak bermain dalam waktu yang cukup lantaran pemain bereaksi dengan cara yang berbeda. 

"Mereka memiliki situasi masing-masing di rumahnya. Jadi jika tidak ada Liga, sepak bola Indonesia dengan sendirinya tidak akan bertahan," tuturnya. 

Pelatih berusia 65 tahun ini sempat melihat ada harapan sepak bola Indonesia akan lebih maju. Itu terjadi saat Persib berhasil merekrut pemain kelas dunia, Michael Essien pada musim 2017 silam. 

"Orang-orang mulai banyak membicarakan sepak bola Indonesia, membuka mata dunia terhadap sepak bola Indonesia," katanya. 

Karena itu, Robert merasa Liga di Indonesia harus dilanjutkan. Namun, hingga saat ini, kompetisi belum bisa digulirkan karena pemerintah Republik Indonesia masih menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. 

"Pertanyaannya adalah, kenapa pihak otoritas masih menghentikan Liga. Yang mana di negara-negara lain di dunia sudah mulai menggulirkan lagi Liga dan olahraga profesional lainnya, itu yang menjadi isu besarnya," ujarnya.

Apabila keluh kesah yang selama ini tidak digubris, Robert memastikan nasib para pelaku sepak bola akan menjadi lebih rumit. Padahal beberapa masukan sudah diberikan. 

"Masyarakat di sini tidak siap untuk berdiskusi dan tidak terbuka mendengar masukan dari para pakar soal bagaimana mengimplementasikan sepak bola atau olahraga lain di bawah situasi tertentu. Di seluruh dunia, itu bisa diselesaikan dan itu yang menjadi pemikiran saya setiap saat," tegasnya.(Muhammad Ginanjar)