Jelang Idul Adha, Dispangtan Kota Bandung Temukan Ratusan Hewan Kurban Tak Layak Jual

Jelang Idul Adha, Dispangtan Kota Bandung Temukan Ratusan Hewan Kurban Tak Layak Jual
Foto Ilustrasi Net



INILAH, Bandung - Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung Gin Gin Ginanjar mengatakan, ratusan hewan kurban di Kota Bandung dinyatakan tidak layak jual jelang perayaan Idul Adha 1442 Hijriah.

"Hingga Rabu (14/7), total ada 225 hewan yang kita rekomendasikan untuk diobati sampai sembuh. Dan apabila masih belum layak, tidak diperbolehkan untuk dijual kepada konsumen," kata Gin Gin pada Kamis (15/7/2021).

Menurut dia, total hewan kurban yang diperiksa Dispangtan Kota Bandung hingga 14 Juli, tercatat mencapai 3.925 ekor yang terdiri dari sapi, domba dan kambing. Jumlahnya pun akan terus bertambah mengingat pemeriksaan hingga 19 Juli.


"Dari jumlah 3.925 ekor terdiri dari sapi yang layak 1.076 ekor, tidak layak 62 ekor. Domba layak 2.616 ekor, tidak layak 158 ekor, dan kambing delapan ekor layak dan lima ekor tidak layak. Jumlah ini akan terus bertambah karena pemeriksaan sampai 19 Juli," ucapnya.

Dijelaskan dia, tim yang melakukan pemeriksaan terdiri dari staf, dokter hewan yang bekerja sejak 12 Juli hingga 19 Juli mendatang di 30 kecamatan yang ada di Kota Bandung. Total lokasi penjualan hewan kurban di Kota Bandung mencapai 127 tempat.

"Masing-masing tim ini, terdiri dari dua hingga tiga orang yang melakukan pemeriksaan di satu kecamatan. Pemeriksaan dilakukan kepada hewan kurban, dan jika dinyatakan layak, dan sehat. Maka akan diberikan kalung layak dan sehat kepada hewan kurban," ujar dia.

Sambung Gin Gin, pihaknya juga telah menyiapkan aplikasi tentang hewan-hewan kurban yang dijual. Pada setiap kalung, terdapat barcode yang dapat diperiksa konsumen menggunakan telepon genggam dan identitas hewan kurban akan muncul.

"Kebanyakan, penjual hewan kurban bukan orang Bandung diluar peternak Kota Bandung yang memiliki peternakan. Tiap penjual harus berkoordinasi dengan kewilayahan soal tempat jual," jelasnya.

Dirinya pun mengimbau kepada masyarakat agar melaksanakan pemotongan hewan kurban di rumah potong hewan (RPH). Namun dengan lokasi RPH yang terbatas, maka masyarakat dapat secara mandiri melakukan pemotongan protokol kesehatan yang ketat.

"Rata-rata sehari RPH dapat memotong hewan sebanyak 272 ekor hanya untuk sapi. Sedangkan pada pandemi covid-19 hanya 170 ekor. Biaya retribusi yang dikenakan sebesar Rp 35 ribu sedangkan biaya pemotongan sendiri disepakati antara pihak," tandas dia. (Yogo Triastopo)