Sikap Kami: Kue untuk Pasirkaliki

Sikap Kami: Kue untuk Pasirkaliki



KITA sebut saja Balai Wyata Guna. Kalau disebut lengkap, panjang. Cenderung ribet. Susah mengingatnya. Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra. BRSPDSN Wyata Guna.

Kerap juga jadi bahan berita. Misalnya, pernah ditutup dua pekan karena pegawainya banyak terpapar Covid-19, Oktober lalu. Pernah pula heboh karena 30-an penghuninya menginap di trotoar saat statusnya berubah jadi balai dengan nama yang panjang itu.

Tapi, tak ada yang seheboh Selasa (13/7) lalu, ketika Menteri Sosial Tri Rismaharini berkunjung ke sana. Di sana, di balai yang berlokasi di Jalan Pajajaran, Pasirkaliki itu, sang menteri memarahi anak buahnya. Melihat kerja anak buahnya tak beres, dia ancam bisa memindahkan ke Papua.


Pemimpin memarahi anak buahnya, hal yang normal. Sepatutnya itu bisa menjadi pendongkrak kinerja aparatur di sana. Kita sependat. Setuju pisan. Terutama karena fungsi sosialnya ikut melayani penanganan pandemi Covid-19.

Tetapi, ada yang patut kita sesalkan. Memarahi anak buah di depan orang banyak, apalagi di depan kamera wartawan, adalah hal yang tidak elok. Itu artinya mempermalukan mereka. Yang terjadi bukan pembinaan atasan kepada bawahan. Buat kita, itu kemarahan yang destruktif.

Kita heran, kenapa Bu Menteri tak menarik saja pimpinan balai ke dalam ruangan, memberikan masukan dan wejangan. Itu jauh lebih berwibawa, lebih terhormat, bukan saja bagi aparatur, melainkan juga untuk Bu Menteri.

Kita percaya, Bu Menteri sudah banyak makan asam garam kepemimpinan. Tapi, mengumbar emosi di depan khalayak, buat kita itu menandakan Bu Menteri sepatutnya belajar lebih banyak soal psikologi kepemimpinan.

Apalagi kemudian menyinggung-nyinggung memindahkan ke Papua. Kita berharap itu hanya pernyataan emosional saja. Kalau itu dilakukan di tengah alam sadar yang normal, itu tak patut dilakukan pemimpin.

Itulah sebabnya, ketenangan, kebesaran jiwa pemimpin diperlukan. Tak perlu mengumbar kata di tengah suasana hati penuh emosional. Sebab, bisa memunculkan pernyataan-pernyataan yang bisa memperlebar persoalan.

Apa yang terjadi di Pasirkaliki itu, sejatinya, bukan hanya pelajaran berharga buat Bu Menteri. Tapi juga pemimpin-pemimpin lain. Gunakanlah nurani yang dalam, kemanusiaan dengan nilai sosial yang tinggi, jika menghadapi persoalan.

Atau, mungkin Bu Menteri perlu melakukan antitesa gayanya jika ingin membimbing anak buahnya. Bisa dengan menyentuh hati aparatur yang kita yakini tidaklah sekeras batu. Bisa, misalnya, dengan mengirim kue ke Pasirkaliki, agar anak buahnya merasa mendapat perhatian Bu Menteri, sehingga kinerjanya semakin membaik. (*)