Tak Ada Gairah dan Minat Publik untuk Olimpiade Tokyo

Tak Ada Gairah dan Minat Publik untuk Olimpiade Tokyo



INILAH, Jakarta- Minat dunia mengikuti Olimpiade Tokyo meredup di tengah kekhawatiran terhadap COVID-19 di Jepang dan mundurnya beberapa atlet terkenal serta negara tuan rumah menjadi di antara yang paling tidak tertarik mengikutinya, demikian hasil jajak pendapat Ipsos di 28 negara seperti dikutip Reuters.

Jajak pendapat yang dirilis Selasa itu menyimpulkan rata-rata minat dunia mengikuti Olimpiade adalah 46 persen, tetapi kegairahan bermacam-macam di berbagai pasar yang di Jepang mencapai kurang dari 35 persen.

Olimpiade terlanda pandemi yang akan dimulai dalam sembilan hari ke depan ini kehilangan dukungan publik di tengah masih adanya kekhawatiran terhadap risiko infeksi dan keadaan darurat yang diumumkan di Tokyo, meskipun penyelenggara menjanjikan langkah-langkah ketat terkait virus corona.


Penonton dilarang menghadiri semua event Olimpiade di Tokyo dan wilayah sekitarnya, sedangkan para pejabat Jepang meminta warga menonton Olimpiade lewat televisi untuk meminimalkan pergerakan orang.

Menurut survei Ipsos, hanya 22 persen warga Jepang yang mengatakan Olimpiade harus dilanjutkan.

Gubernur Tokyo Yuriko Koike mengungkapkan kecukupan jumlah rumah sakit yang berkombinasi dengan percepatan vaksinasi COVID-19 lansia mengartikan kota itu akan bisa menyelenggarakan Olimpiade dengan "aman dan terjamin".

Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach, yang memuji penyelenggara karena menggelar acara tersebut, akan bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga pada Rabu.

Ibu Negara AS Jill Biden, bukan suaminya Presiden Joe Biden, akan melawat ke Tokyo untuk menghadiri upacara pembukaan 23 Juli, kata Gedung Putih.

Petenis Swiss Roger Federer menjadi nama besar berikutnya dalam tenis yang mengundurkan diri dari Olimpiade Tokyo setelah juara Grand Slam 20 kali itu mengatakan Selasa bahwa dia mengalami cedera lutut saat Wimbledon.

Olimpiade yang ditunda tahun lalu karena pandemi itu berlangsung dari 23 Juli hingga 8 Agustus. Keadaan darurat di Tokyo yang merupakan keempat di ibu kota Jepang itu berlangsung hingga 22 Agustus, tak lama sebelum Paralimpiade dimulai.