Sikap Kami: Ragam Cara, Satu Tujuan

Sikap Kami: Ragam Cara, Satu Tujuan



KONDISI darurat Covid-19 memperlihatkan beragam cara pemimpin menangani dan menerapkan regulasi. Ada yang marah-marah, ada yang tenang. Tidak apa. Semua orang punya karakter masing-masing. Yang penting, dengan marah atau tenang, hasil kerjanya terlihat.

Misalnya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mendatangi kantor di kawasan Sudirman dan marah ketika masih ada perusahaan sektor esensial mempekerjakan lebih dari 50% karyawan. Atau, dia menahan seorang pekerja di Jalan Daan Mogot, menyuruh menelepon atasannya, agar kerja dari rumah.

Pun, di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo, mendatangi RSUD dan kantin DPRD. Juga marah-marah karena masih terjadi pelanggaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat.


Di Jawa Barat, Gubernur Ridwan Kamil tak pakai marah-marah. Dia rupanya lebih senang bekerja dalam diam. Menyiapkan segala yang sudah dirancang sejak awal. Salah satunya pengiriman obat-obatan dan suplemen gratis bagi pasien Covid-19 yang tengah isolasi mandiri.

Mana yang baik? Semuanya baik. Sepanjang itu diniatkan dan dikerjakan untuk kebaikan. Anies atau Ganjar, misalnya, dengan marah-marah, bisa dinilai publik meghadirkan terapi kejut bagi pelanggar PPKM Darurat. Bagus juga. Emil konsentrasi mengatasi persoalan yang muncul di tengah kegelisahan pasien positif yang menjalani isolasi mandiri. Juga bagus.

Tidak berarti dengan demikian penegakan regulasi PPKM Darurat di Jawa Barat tak berjalan meski tanpa marah-marah. Kemarin saja, kita lihat, tiga perusahaan yang melanggar di Kabupaten Garut dijatuhi sanksi denda lumayan. Hampir separuh dari denda maksimal. Di Majalengka, juga tiga perusahaan diganjar denda oleh Satgas Covid-19 setempat berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri.

Semua berjalan. Tentu tak sempurna. Tak ada penegakan regulasi di tengah pandemi yang sempurna. Tapi, sepanjang ketidaksempurnaan itu membuahkan hasil yang baik, kita tak lagi punya hak untuk keberatan.

Lagi pula, buat kita, penanganan pandemi Covid-19 ini, terutama juga di tengah kondisi yang disebut darurat, tak bisa hanya dilaksanakan pemerintah. Keikutsertaan pemangku kepentingan lain, termasuk masyarakat, sangat menentukan. Karena itu, masyarakat atau dunia usaha, harus memberikan dukungan penuh.

Sebab, kecuali marah-marah, ada hal lain yang lebih penting disiapkan pemimpin. Salah satunya adalah menangani persoalan yang lebih dalam –termasuk menyulai kebutuhan mereka yang sedang isolasi. Itu persoalan penting lain yang justru pada banyak daerah terabaikan. (*)