Sekda Kota Bandung Apreasiasi Kekompakan Warga Sukaraja Tangani Covid-19

Sekda Kota Bandung Apreasiasi Kekompakan Warga Sukaraja Tangani Covid-19
Istimewa



INILAH, Bandung - Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Bandung Ema Sumarna mengapresiasi pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di RW 09 Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung.

Menurutnya, tak hanya ketua rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) yang dapat memahami pelaksanaan PPKM darurat. Tetapi warganya pun telah begitu kompak. Warga sudah paham di waktu-waktu tertentu tidak lagi beraktivitas terkecuali urgent. 

"Dan mereka pun kompak saat ini, karena sedang melakukan PPKM darurat tidak dulu memberikan ruang kepada masyarakat di luar warga di sini untuk masuk ke wilayah ini. Ternyata dengan pemahaman yang luar biasa dari pengurus, ini bisa dipahami oleh masyarakat," kata Ema. 


Menurut dia, penanganan warga terkonfirmasi covid-19 pun sudah baik. Orang tanpa gejala (OTG) atau gejala ringan tidak menuju ke rumah sakit, karena BOR saat ini sedang tinggi di angka 92,83. Warga yang tidak memiliki tempat yang layak untuk isolasi mandiri harus dicarikan alternatif. 

"Kalau memang ini sulit sekali, saya minta kepala puskesmas berkoordinasi memanfaatkan hotel yang kita siapkan. Mungkin masih ada 1-2 kamar yang bisa dimanfaatkan. Di sana difasilitasi, makan tiga kali kontrol dokternya, kemudian juga ruangannya jelas terstandarisasi itu relatif jauh lebih baik," ucapnya. 

Ema menegaskan, covid-19 itu bukan aib. Justru saat diketahui, akan muncul kepedulian warga. 

"Dengan semangat gotong royong ini luar biasa, apalagi tadi pak camat terus menggerakan bu lurah, bagi masyarakat yang ekonomi lebih, terus diajak untuk berempati. Tadi Alhamdulillah ada bantuan 50 kilogram beras untuk sekitar 40 orang warga masyarakat disini yang sedang terkonfirmasi covid-19 dan itu secara umum adalah OTG dan gejala ringan," ujar dia. 

Sementara itu, Ketua RW 09 Kelurahan Sukaraja, Nugraha mengatakan, jumlah kasus terkonfirmasi di RW 09 sebanyak 42 orang, dan RT 04 merupakan yang terbanyak sekitar 18 orang.

"Kalau rumah yang dijadikan tempat isoman ada sembilan termasuk yang satu sekolah," kata Nugraha. 

Menurut dia, pemilihan ruangan di sekolah yang ada di lokasi tersebut, karena rumah tinggalnya tidak layak, dan ada tiga anggota keluarga lainnya, sedangkan rumah singgah sudah penuh.

"Kita meminta isoman di rumah singgah, ternyata penuh, waiting list. Akhirnya kita koordinasi dengan pihak sekolah, dengan rasa kemanusiaan mereka memberikan satu ruangan untuk dijadikan tempat isoman," ucapnya. 

Sedangkan Kepala UPT Puskesmas Sukaraja Dwi Mudji Astuti mengaku, menerima laporan jika ada yang positif melalui hotline Puskesmas Sukaraja. Pihaknya lalu menanyakan terlebih dahulu kondisi yang bersangkutan.

"Nanti ditanyakan apakah di rumah layak untuk isolasi atau tidak. Jadi kita dipantau dari jauh dan minta bantuan dari RT RW untuk melihat kondisinya," kata Dwi. (Yogo Triastopo)