KPAI Soroti Learning Loss Para Peserta Didik

KPAI Soroti Learning Loss Para Peserta Didik
net



INILAH, Bandung - Salah satu kekhawatiran jika pembelajaran jarak jauh (PJJ) terus dilakukan yakni terjadinya learning loss (kehilangan belajar) di kalangan siswa. Bagaimana itu terjadi?

Melihat hal tersebut, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengungkapkan, learning loss sebetulnya bisa diantisipasi guru dan orang tua siswa. Dalam hal ini, orang tua dan guru harus menggunakan pola-pola yang jauh lebih kreatif bukan hanya bertumpuk kepada daring dan menjawab soal saja.

Sebagai contoh, seorang guru Bahasa Indonesia memberi tugas untuk membaca novel kepada anak-anak didiknya selama lima hari. Usai membaca, anak didiknya menceritakan kepada orang tua dan gurunya. Sebab, biasanya kalau disuruh membaca novel itu anak-anak lebih nikmat atau enjoy. Hal ini sebetulnya secara tidak langsung menyuruh anak untuk belajar.


"Selain itu, misalnya hari Selasa sama Kamis adalah mata pelajarannya berbuat baik untuk orang serumah, itu yang harus dilakukan, dan itu dilakukan juga di negara Eropa. Anak TK, SD, itu kan sebetulnya membentuk karakter, bagaimana penugasan-penugasan adalah membangun karakter sendiri," ujar Retno, melalui akun Youtube, Selasa (6/7/2021).

Sementara untuk siswa-siswi SMP dan SMA/SMK lanjut Retno, bisa melakukan tutorial semisal tutorial memasak, make up, olahraga dan lainnya. Sebetulnya, kreativitas itu harus dimunculkan disini, jangan pernah berfikir belajar itu jawab soal teks.

"Menurut kami ketertinggalan yang dimaksud dengan learning loss sebetulnya dikemudian hari tetap bisa dikejar, kalau situasi sudah membaik, jadi itu yang harus ditanamkan oleh orangtua dan juga anak," imbuhnya.

Dia menambahkan, selama PJJ berlangsung, seorang siswa harus menjawab soal, kemudian kirim video, yang belum tentu handphone-nya sanggup, dan kuotanya cukup besar dan lainnya. Jadi, pembelajaran PJJ itu sebenarnya bisa dilakukan dengan pola-pola yang jauh lebih baik, dan percayalah kepada siswa-siswinya.

"Dari hasil kesiapan mental penelitian dan beberapa kajian, itu menunjukan anak-anak sudah mulai jenuh, kalau anak tidak suka, dia tidak akan muncul di zoom, dan tidak akan ikut, dan itu jauh lebih berbahaya. Jadi, yang harus dijaga adalah keteraturan, namun keteraturan yang menyenangkan, belajar itu harus menyenangkan," paparnya. (Okky Adiana)