FAGI: Pendidikan Formal Harus Dilakukan Guru, Bukan Orang Tua

FAGI: Pendidikan Formal Harus Dilakukan Guru, Bukan Orang Tua
dok/inilahkoran



INILAH, Bandung - Sejak pandemi Covid-19 melanda, dunia pendidikan terpaksa memindahkan proses belajar mengajar dari sekolah ke rumah melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal ini untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Ketua Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) Iwan Hermawan menyikapi hal tersebut. Menurutnya, PJJ harus menggunakan alat komunikasi seperti ponsel, laptop dan lainnya. Hal ini yang harus diperhatikan seluruh guru untuk mengetahui bahwa anak itu mengerjakan soal atau latihan secara jujur dan baik.

Untuk itu, setiap guru harus memiliki strategi yang baik kepada anak-anak, misalnya membuat soal yang non objektif. Artinya, soal-soal itu bagaimana membuat pemecahan masalah. Ketika ada persoalan seperti ini, ada konflik sosial, dan ini dikaitkan dengan masalah pandemi.


"Kita mencoba kepercayaan dan kejujuran, karena kita punya strategi, mana anak yang jujur, dan mana anak yang tidak jujur, artinya kita memberikan soal yang nonobjektif, kita memberikan soal esai dari pada pilihan ganda, kalau pilihan ganda kan sangat mudah, handphone bisa dimatikan dan lain sebagainya. Kurikulum itu harus disederhanakan, jangan digunakan kurikulum yang normal," jelas Iwan, Senin (5/7/2021).

Menurut dia, arah pendidikan itu ada tiga yakni informal, nonformal, dan formal. Seluruh guru bertugas memberikan pendidikan formal artinya pendidikan formal itu memberikan ilmu pengetahuan. Tetapi tugas utama pendidikan informal berkaitan dengan karakter, norma, nilai itu ada di orang tua masing-masing.

"Jadi kita bersama-sama antara guru dan orang tua untuk melaksanakan pendidikan ini, jadi orang tua jangan berperan sebagai pendidikan formal," katanya.

Selain itu lanjut Iwan, ada kekesalan dari semua siswa ketika pembelajaran tatap muka (PTM) akan diberlakukan pada Juli 2021 ini. Seluruh siswa dan guru pun sudah bosan dengan PJJ ini. Anak-anak itu lebih banyak kangen kepada teman-temannya, ikut kegiatan ekstrakurikuler, setelah itu ada kebebasan bermain setelah pulang sekolah sebelum ke rumah.

"Ilmu itu bisa dituntut di kemudian hari, tapi kehilangan nyawa, tidak pernah bisa menggantinya. Oke lah bisa PTM, tapi seluruh siswa harus divaksin terlebih dahulu, dari PAUD samapai perguruan tinggi," pungkasnya. (Okky Adiana)