Sikap Kami: Gonjang-ganjing Cirebon

Sikap Kami: Gonjang-ganjing Cirebon



SULIT menafikan bahwa tak ada persoalan dalam pemerintahan Kabupaten Cirebon. Setidaknya persoalan di pucuk pimpinannya. Kalau tidak, rasanya tak mungkin DPC PDI Perjuangan Kabupaten Cirebon memanggil Bupati Imron dan Wakil Bupati Wahyu Tjiptaningsih.

Resminya, PDIP memanggil kedua untuk klarifikasi gonjang-ganjing soal mutasi pejabat. Imron mensinyalir ada orang luar yang ikut bermain dalam pengusulan mutasi itu. Tentu saja aneh karena Imron adalah Bupati Cirebon. Bukankah seharusnya dia yang memberikan kata akhir?

Kalau ada yang bermain, lalu siapa? Semuanya masih dalam tahap menduga-duga. Tapi, persoalan mutasi jabatan ini memang seperti menjadi ciri khas Pemkab Cirebon. Salah satu yang membuat Sunjaya Purwadisastra, bupati yang digantikan Imron, adalah juga ihwal mutasi pejabat ini.


Kemudian menjadi pertanyaan pula, sementara daerah lain sudah maju, dengan menggunakan lelang terbuka untuk penentuan pejabat eselon, Pemkab Cirebon masih main dalam tataran kasak-kusuk seperti itu. Kalau begini terus, kapan majunya Kabupaten Cirebon?

Adanya persoalan yang kita duga terjadi di pucuk kepemimpinan Kabupaten Cirebon, buat kita juga aneh. Baik Imron maupun Ayu, sama-sama berasal dari partai politik yang sama. Ayu belum setahun menjabat wakil bupati, mengalahkan calon yang bukan tandingannya, dalam pemilihan yang dilakukan DPRD.

Kalau dalam setahun saja bibit-bibit perpecahan sudah terlihat kasat mata di depan publik, bagaimana mau menuntaskan kepemimpinan di Cirebon? Kalau betul perpecahan itu terjadi, sesuatu yang juga banyak terjadi di mana-mana, maka yang jadi korban sesungguhnya adalah masyarakat Cirebon sendiri.

Seharusnya, karena berasal dari parpol yang sama, dengan visi yang sama, tak ada alasan keduanya memiliki relasi yang dalam hemat banyak orang, kurang serasi ini. Harusnya justru saling mendukung, saling mengisi.

Tapi, begitulah kekuasaan. Dia kenikmatan yang memabukkan. Jika tak pandai-pandai menjaganya, justru akan memberi efek buruk kepada masyarakat yang telah memberi kepercayaan.

Kita menyarankan kepada keduanya, untuk sama-sama memperbaiki diri. Ingat, kepercayaan yang diberikan masyarakat Cirebon adalah beban yang berat. 

Lupakanlah hal-hal lain karena pengabdian mereka takkan lama lagi. Hanya sampai 17 Mei 2024. Berbuatlah yang baik-baik untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat Cirebon. Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka bisa menarik simpati warga untuk memilih kembali pada pilkada serentak 2024? (*)