Penambahan Kasus Satu Hari Tembus 477 Kasus di Kota Bogor

Penambahan Kasus Satu Hari Tembus 477 Kasus di Kota Bogor
istimewa



INILAH, Bogor - Kasus Covid-19Kota Bogor semakin mengkhawatirkan dari data yang dirilis Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor pada Senin (26/6/2021) malam, angka penambahan kasus dalam satu hari kembali pecah rekor. Tercatat sebanyak 477 kasus positif Covid-19, selain itu tercatat juga sudah 336 tenaga kesehatan (nakes) Kota Bogor yang terpapar Covid-19.

 

"Penambahan kasus hari ini 447. Total kasus positif Covid-19 di Kota Bogor mencapai 20.015 orang. Rinciannya yakni sebanyak 3.391 orang masih sakit atau dirawat, 16.341 orang sudah sembuh dan 283 orang meninggal dunia," ungkap Kepala Dinkes Kota Bogor Sri Nowo Retno pada Senin (28/6/2021) malam.


 

Retno melanjutkan, untuk kasus kontak erat totalnya sebanyak 11.843 orang. Dari jumlah tersebut, 802 orang masih dikarantina dan 11.041 orang sudah sembuh.

 

"Sampai saat ini belum ada kasus meninggal dunia. Selanjutnya, kasus suspek totalnya sebanyak 5.704 orang. Dengan rincian 229 orang masih sakit, 5.400 orang sudah sembuh dan 75 orang meninggal dunia. Terakhir, untuk kasus kategori probable totalnya 108 orang. Dari jumlah tersebut, 11 orang sudah selesai isolasi atau sembuh dan 97 orang meninggal dunia," tambahnya.

 

Sementara itu, sebanyak 336 tenaga kesehatan (nakes) di Kota Bogor, Jawa Barat terpapar Covid-19, mereka masih menjalani perawatan baik di rumah sakit maupun isolasi mandiri. Kondisi itu menyebabkan pemerintah kota Bogor membuka rekrutmen nakes dan relawan guna mengisi kekosongan nakes.

 

"Sebanyak 336 nakes itu berasal dari 21 Rumah Sakit di Kota Bogor. Beberapa di antaranya harus dirawat karena bergejala sedang-berat, sementara gejala ringan hingga OTG isolasi di rumah masing-masing dengan pengawasan. Sekarang di Kota Bogor daya tampung rumah sakit secara keseluruhan 950 tempat tidur. Tetapi kasus aktifnya 3.000 an. Coba bayangkan," ungkap Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim kepada wartawan pada Senin (28/6/2021).

 

Dedie menerangkan, untuk tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) saat ini di RS Kota Bogor mencapai 83 persen. Sementara untuk kapasitas Intensive Care Unit (ICU) telah terisi 100 persen. Kondisi itu menyebabkan penularan baru terjadi pada mobilitas warga yang kesusahan mendapatkan tempat tidur perawatan di RS.

 

"Dari BOR RS yang hampir penuh itu, 51 di antaranya berasal dari pasien Covid-19 non warga Kota Bogor. Mereka datang dari DKI Jakarta, Kota Depok, dan Kabupaten Bogor. Tingkat kematian warga Kota Bogor yang terpapar Covid-19 juga meningkat belakangan ini, tapi saya belum dapat angkanya. Bahkan beberapa kasus kematiannya di rumah, jadi isolasi mandiri dan tidak mendapat akses faskes, ditambah mungkin ada komorbid, jadi akhirnya meninggal di rumah," terangnya.

 

Dedie berpendapat, sudah sewajarnya dilakukan pembatasan mobilitas yang lebih ketat, Pemkot Bogor juga telah mengajukan penutupan akses kereta rel listrik (KRL) atau commuterline. Namun hal itu menurutnya susah diterapkan apabila tidak ada kesepakatan bersama satu wilayah aglomerasi Jabodetabek. Kota Bogor sendiri tengah memperketat aturan pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro, salah satunya ia menginstruksikan agar seluruh pekerja work from home (WFH) 100 persen.

 

"Kami harus melakukan langkah drastis dalam mencoba menekan jumlah paparan akibat mobilisasi massa yang sedang mencari akses terhadap faskes," pungkasnya. (rizki mauludi)