Sikap Kami: Ebiet, HRS, dan Keadilan

Sikap Kami: Ebiet, HRS, dan Keadilan



MUNGKIN, sesekali, penegak hukum: dari penyelidik, penyidik, penuntut, hingga pengadil, perlu meluangkan waktu. Bisa tengah malam, di tengah suasana sunyi. Agar dapat makna mendalam dari syair lagu Ebiet G Ade ini.

“Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih…Suci lahir dan di dalam batin…” begitu liriknya.

Sebab apa? Timpangnya keadilan sungguh dirasakan masyarakat kita. Hukum yang tajam ke atas, ke bawah, ke samping-kiri kanan itu, ternyata hanya ada di kalimat-kalimat kampanye. Faktanya, tajam ke bawah tumpul ke atas juga.


Saat ratusan –atau mungkin ribuan?—orang berniat mendatangi Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang menyidangkan Habib Rizieq Shihab, penyebabnya hanya dua. Pertama, ketokohan Rizieq. Kedua, warga yang kiat sulit percaya dengan hukum yang adil.

Perhatian kita ada pada faktor kedua ini. Keadilan yang terasa kian tercabik. Timbangan yang berat sebelah.

Dalam kasus Rizieq Shihab ini, mata telanjang kita melihat begitu banyak keganjilan-keganjilan yang terjadi. Bayangkan, untuk persoalan yang nyaris sama, dia diseret ke tiga proses peradilan sekaligus.

Persoalan pelanggaran prokes, misalnya, keadilan itu terasa nyaris tak ada karena dia bukan satu-satunya pelanggar. Banyak pelanggar lain. Dari politisi hingga pejabat negara. Dari selebritas hingga artis. Adakah mereka yang diseret ke pengadilan? Nol! Rizieq Shihab divonis bersalah, dihukum penjara, meski pada satu kasus dia sudah membayar denda.

Lalu, dari kasus hasil swab di Rumah Sakit Umum Ummi di Bogor, dia divonis menyebar berita bohong yang menyebabkan keonaran. Menjadi pertanyaan buat kita, di bagian Bogor mana keonaran yang terjadi? Yang onar hanya pendukung Rizieq dan penentangnya. Ketua Satgas Covid-19 Kota Bogor bahkan sebenarnya ingin mencabut pelaporan.

Jaksa menyebut keonaran di dunia maya dan hakim sependapat. Wahai jaksa dan hakim, kapan dunia maya kita tidak pernah onar? Selalu heboh. Kalaupun onar di dunia maya, mungkin pemicunya pernyataan Rizieq, tapi pelaku keonaran jelas bukan dia. Lagi pula, pernyataan siapapun hampir selalu jadi biang onar dunia maya. Dan, rasanya terlalu berat bila diganjar hukuman empat tahun penjara.

Tapi, ya begitulah penegakan hukum kita. Jangan salahkan jika ada yang membandingkan hukuman buat Pinangki Sirnamalasari dengan Rizieq Shihab. Meski bukan dalam konteks serupa, tapi itulah gambaran kekecewaan publik terhadap keadilan.

Mungkin, sekali lagi mungkin, kita harus telanjang, menjadi bersih lahir batin. Seperti kata syair itu lagi, kita anggap ini satu isyarat: “Bahwa kita mesti banyak berbenah.”