Sikap Kami: Balada Obat Cacing

Sikap Kami: Balada Obat Cacing



TETIBA, kita dikagetkan dengan Ivermectin. Harganya murah. Khasiatnya lincah: terapi Covid-19. Konon, sudah dapat izin BPOM. Bisa diproduksi masif di Tanah Air. Empat juta butir sebulan.

Sayangnya, yang menyampaikan Erick Thohir. Dia “bos” semua bos BUMN. Termasuk Indofarma, perusahaan farmasi yang memproduksi Ivermectin itu. Erick jelas bukan ahli farmasi.

Maka, sehari kemudian, tepatnya kemarin, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny Lukito, meluruskan. Izin edar Ivermectin yang dikeluarkan BPOM adalah sebagai obat cacing!


Maka, kemudian di ruang publik, yang muncul adalah silat lidah. Indofarma menyebutkan Invermectin adalah obat antiparasit, punya kemampuan menghambat replikasi virus SARS-Cov-2. Staf Khusus Erick Thohir, Arya Sinulingga, menyebutkan Ivermectin bukan obat Covid-19, tapi terapi covid. Katanya, ada jurnal ilmiahnya lho.

Ada di jurnal ilmiah, tapi belum terbukti secara ilmiah. Karena itu, BPOM menegaskan tetap butuh dukungan ilmiah lebih lanjut, bahkan untuk digunakan sebagai terapi Covid-19 sekalipun.

Adakah yang memakainya untuk terapi Covid-19? Konon ada. Di India, bahkan Amerika. Tapi, fungsinya kira-kira sama seperti Avigan, Azithromycin, atau Favipiravir. Manfaat Avigan, misalnya, sesungguhnya untuk mengatasi infeksi virus influenza.

Bahwa ada dokter yang menganjurkan Avigan jadi obat terapi Covid-19, boleh saja. Tapi, sampai sekarang belum ada uji klinis memastikan itu. Sama juga seperti Ivermectin. Jangankan di Indonesia, juga di Amerika, yang kabarnya sudah ada pengguna Ivermectin sebagai terapi Covid-19.

Badan Obat dan Makanan AS (DFA), sampai Mei lalu, bahkan meminta publik hati-hati menggunakan Ivermectin di tengah gencarnya isu manfaat obat tersebut. Sebab, perlu penelitian untuk membuktikan obat itu mampu jadi media terapi Covid-19. 

Apalagi, penggunaannya harus dengan kontrol ketat dokter. Sebab, ternyata banyak efek sampingnya. Itu juga bisa berbahaya. Di Amerika pun, ini obat cacing yang biasa dipakai untuk hewan.

Jadi, tidak perlu kita bereuforia dulu, seolah-olah sudah menemukan obat terapi Covid-19. Sebelum ada uji klinis yang tepat, sepatutnya tidak perlu digembar-gemborkan. Apalagi oleh seorang pejabat negara setingkat menteri.

Kita memang harus berpacu dengan waktu dalam peperangan melawan Covid-19. Tapi, tak perlu grasa-grusu. Apalagi, jika dilakukan bukan oleh ahlinya. Kalau keliru, kita yang malu. Apa kata dunia? (*)