Divonis Bebas Murni, Terdakwa Iryanto Sujud Syukur

Divonis Bebas Murni, Terdakwa Iryanto Sujud Syukur
istimewa



INILAH, Bandung - Usai kliennya divonis bebas murni majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bandung dan keputusannya inchracht, Dinalara Butar kuasa hukum terdakwa Iryanto akan menuntut perdata dan pidana aparat hukum yang disebut terbukti menjebak kliennya. 

Hal itu dia sampaikan usai sidang Tipikor, Jumat (18/6/2021) dimana majelis hakim yang dipimpin hakim ketua Irfandaru memvonis bebas murni terdakwa Iryanto dan meminta pihak aparat hukum mengembalikan barang sitaan berupa uang sebesar Rp70 juta, handphone dan lainnya.

"Usai hakim ketua Irfandaru memvonis bebas murni klien kami dan menyatakan bahwa Iryanto dijebak pada operasi tertangkap tangan (OTT) Tipikor pada Maret lalu oleh Sat Reskrim Polres Bogor. Kami juga akan menunggu apakah pihak Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor akan mengajukan kasasi. Kalau sudah tetap keputusan hukumnya dan klien kami bebas murni, maka langkah kami selanjutnya menuntut secara perdata dan pidana aparat hukum yang terbukti menjebak Iryanto," tegas Dinalara kepada wartawan.


Dia menerangkan, yang terbukti menerima uang dari pihak pemberi suap ialah pegawai DPKPP berinisial AB dan FS.

"Klien kami Iryanto tidak hanya terbukti tidak menguasai uang suap karena dia mengira isi amplop cokelat adalah gambar revisi syarat perizinan sebuah klinik yang dia minta kepada pemohon ijin, tetapi juga sangkaan atau pasal lainnya seperti pemerasan ataupun gratifikasi yang sebelumnya dituduhkan aparat hukum," terangnya.

Dinalara menuturkan, kliennya Iryanto beserta keluarga yang turut hadir dalam persidangan berterima kasih atas putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tipikor Bandung.

"Rasa lelah karena setahun lebih kami menjalani sidang Tipikor, akhirnya Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Bandung bisa memutuskan hukum secara adil. Kami  berterima kasih, bahkan klien kami menumpahkan rasa bahagianya dengan melaksanakan sujud syukur dan menangis di depan majelis hakim," tutur Dinalara.

Hakim ketua Rifandaru didampingi hakim anggota Budi dan Femina memvonis bebas terdakwa Iryanto  merujuk pada fakta persidangan sehingga membuktikan bahwa perbuatan menerima janji dan pemberian hadiah kepada pejabat negara tidak terbukti diterima Iryanto, mantan Sekretaris Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor.

“Berdasarkan fakta persidangan yang ada saat pemeriksaan saksi AB bersaksi bahwa ada penyerahan uang sebesar 95 juta pada bulan Juli 2019 kepada Iryanto tidak bisa dibuktikan karena tidak berkesesuaian dengan saksi lain yang hadir di persidangan," kata Rifandaru.

Sedangkan saksi FS, sambungnya hanya menyatakan bahwa dirinya menyerahkan uang itu kepada saksi AB tapi tidak mengetahui apakah AB benar memberikan uang itu kepada Iryanto. 

"AB juga bersaksi bahwa dirinya mendapatkan sejumlah uang dari Iryanto dan membaginya kepada saksi FA, akan tetapi saksi FA bersaksi bahwa dirinya tidak menerima uang tersebut, makanya keterangan itu dianggap lemah dan tidak bisa dibuktikan bahwa Iryanto menerima uang tersebut," ucap Rifandaru.

Hakim ketua juga menyampaikan bahwa dalam kasus OTT di DPKPP tanggal 3 Maret 2020, terdakwa Iryanto belum menguasai barang bukti berupa amplop coklat yang diletakkan saksi SP dibawah mejanya dan sesaat setelah itu masuk petugas polres Bogor melakukan penangkapan.

Saat kejadian Selasa, 3 Maret 2020 didasarkan atas keterangan saksi SP, saksi anggota Polres Bogor dan saksi FS menyatakan bahwa OTT itu didasarkan atas keterangan SP saat dipanggil keruangan kasatreskrim Polres Bogor yang menanyakan kekurangan dana pengurusan izin RS di Kecamatan Cibungbulang dan Hotel atau vila di Kecamatan Cisarua, lalu SP datang ke DPKPP pada hari kejadian bersama seseorang berinisial RM menggunakan mobil Avanza Silver dan bertemu seseorang bernama Yudi.

“Saat itu Yudi memberikan uang 50 juta kepada SP yang merupakan tahanan di Lapas Pondok Rajeg, Cibinong yang langsung masuk ke ruangan Iryanto lalu meletakkan uang 50 juta dibawah meja Iryanto yang mengatakan itu titipan dan seketika keluar lalu ditangkap kembali dan ditahan di Polres Bogor, hakim mempertimbangkan bahwa amplop coklat berisi uang itu belum dikuasai sepenuhnya oleh Iryanto tapi keburu ditangkap oleh pasukan Sar Reskrim Polres Bogor dengan tajuk OTT," tuturnya.

Atas semua pertimbangan Majelis Hakim dan memperhatikan fakta persidangan, maka Rifandaru selaku Hakim Ketua memutuskan bahwa terdakwa  Iryanto tidak terbukti bersalah dalam kasus ini dan membebaskan dirinya dari segala tuntutan.

Selain itu, juga mengembalikan semua barang bukti yang menjadi hak terdakwa serta membebankan biaya persidangan kepada negara serta hakim tidak membenarkan perbuatan jebakan kepada seseorang.

Mendegar putusan bebas murni tersebut, Iryanto langsung melakukan sujud syukur  dan ucapan Alhamdulillah berulang kali ia ucapkan baik saat di dalam maupun usai keluar dari ruang persidangan Pengadilan Tipikor Bandung.

“Saya tidak bisa berkata-kata hanya rasa syukur kehadirat Allah SWT yang bisa saya ucapkan hari ini, terima kasih atas doa dan dukungan anak-anak dan keluarga saya, untuk LBH Bara JP yang luar biasa berjuang untuk membuktikan saya tidak bersalah dalam kasus ini, buat semua pihak yang sudah ikut mendoakan, akhirnya saya menjadi saksi hidup bahwa keadilan hukum masih tegak di NKRI," ungkap Iryanto. (Reza Zurifwan)