Kematian Akibat Covid-19 di Garut Meluas di 40 Kecamatan

Kematian Akibat Covid-19 di Garut Meluas di 40 Kecamatan
Dokumentasi (zainulmukhtar)



INILAH, Garut - Covid-19 masih terus meruyak mengancam berbagai kalangan di setiap daerah di Kabupaten Garut. Belasan ribu orang terpapar dan ratusan orang meninggal dunia akibat penyakit yang disebabkan Sars Cov2 itu.

Memasuki Juni 2021, penularan Covid-19 kian menggila. Dua kecamatan wilayah selatan Garut yang selama satu tahun lebih bertahan dengan jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 terminim, kini melonjak, yakni Kecamatan Mekarmukti dan Kecamatan Caringin.

Rentang 1-16 Juni 2021, di Garut terjadi penambahan 3.342 orang dan penambahan pasien positif Covid-19, meninggal dunia sebanyak 161 orang.


Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Garut per 16 Juni 2021, kecamatan dengan jumlah pasien positif Covid-19 paling sedikit yakni Kecamatan Caringin sebanyak 29 orang. Sedangkan kecamatan dengan jumlah pasien positif Covid-19 terbanyak yakni Kecamatan Tarogong Kidul sebanyak 1.808 orang.

Ada sepuluh kecamatan dengan jumlah positif Covid-19 mencapai dua digit. Sebanyak 28 kecamatan dengan jumlah positif Covid-19 mencapai tiga digit, dan sebanyak empat kecamatan mencapai empat digit.

Kemudian, angka kematian akibat Covid-19 juga terus meningkat dan meluas di 40 kecamatan (95 persen) dari 42 kecamatan yang ada. Hanya Kecamatan Banjarwangi dan Kecamatan Talegong tidak terdapat warganya meninggal terpapar Covid-19.

Kecamatan yang memiliki angka kematian terendah akibat Covid-19 yakni Kecamatan Karangtengah dengan satu kasus kematian. Sedangkan kecamatan dengan angka kematian tertinggi akibat Covid-19 yakni Kecamatan Garut Kota sebanyak 57 orang.

Dari sebanyak 585 warga meninggal dunia akibat Covid-19 hingga 16 Juni 2021, sebanyak 265 orang usia lansia (antara 60-95 tahun), dan sebanyak tiga orang usia antara tiga tahun sampai 13 tahun. Selebihnya, sebanyak 317 orang usia antara 19 - 59 tahun.

Koordinator Bidang Data dan Informasi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut yang juga Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Garut Agus Ismail menyebutkan, melonjaknya kasus Covid-19 di Garut belakangan ini ditengarai sebagai dampak abainya masyarakat terhadap protokol kesehatan, terutama pasca-Lebaran.

"Pada saat menjelang Lebaran sampai pasca-Lebaran, banyak masyarakat yang abai terhadap prokes," kata Agis, sapaan akrab Agus Ismail.

Dia pun menegaskan, untuk menekan peningkatan kasus Covid-19 tersebut maka langkah yang mesti dilakukan yaitu dengan tetap melaksanakan 3 T (testing, tracing, dan treatment) dan 5M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi). (zainulmukhtar)