Covid-19 di Garut Meledak Gegara Banyak Masyarakat yang Gelar Hajatan?

Covid-19 di Garut Meledak Gegara Banyak Masyarakat yang Gelar Hajatan?
Bupati Garut Rudy Gunawan.



INILAH, Garut- Bupati Garut Rudy Gunawan mengklaim penyelenggaraan pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak tahun 2021 tak menimbulkan dampak terjadinya peningkatan kasus Covid-19 di Kabupaten Garut. 

Dia menyebut, lonjakan kasus Covid-19 di Garut akhir-akhir ini justeru salah satunya terjadi akibat acara pernikahan tak terkendali digelar masyarakat di banyak tempat. Terutama wilayah selatan Kabupaten Garut. Karena itu pula, saat ini, Kabupaten Garut berada pada peringkat pertama dari tiga besar kabupaten paling tinggi kasus aktif Covid-19 di Jawa Barat.

“Kasus aktif terbesar ada di daerah selatan. Masuk klaster kampung. Karena semenjak ada hajatan. Jadi, Alhamdulillah dampak dari Pilkades enggak ada. Kita nunggu dua minggu dampak dari Pilkades, tidak ada. Yang ada dampak hajatan. Saya mendapatkan konfirmasi di sana ada hajatan sedikit-sedikit tidak terkendali," kata Rudy, usai Rapat Koordinasi (Rakor) secara virtual bersama dengan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Jawa Barat terkait Penanganan Covid-19 di Jawa Barat akan secara virtual di Gedung Command Center Garut di Jalan Kabupaten Kecamatan Garut kota, Selasa (15/6/21).


Menurut Rudy yang juga Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut, sekarang ini, penularan virus Sars Cov-2 penyebab Covid-19 justeru terjadi di perkampungan, terutama di wilayah selatan Garut. Dari wilayah tersebut, ditemukan sekitar 400 warga terkonfirmasi positif Covid-19.

Hal itu berdampak pada masuknya Kabupaten Garut pada tiga besar daerah yang kasus aktif Covid-19-nya paling tinggi di Jawa Barat.

Sedangkan mengenai banyaknya pasien positif Covid-19 di Garut meninggal dunia, Rudy mengatakan, hal itu terjadi salah satunya akibat keterlambatan masyarakat melaporkan gejala-gejala berkaitan Covid-19. Banyak masyarakat tak melapor ketika kehilangan penciumannya. Mereka baru melapor dan diperiksa ke puskesmas ketika kondisi tubuhnya sudah panas dingin alias dalam kondisi fase dua. 

Kendati kasus Covid-19 terus meningkat disertai peningkatan warga meninggal dunia akibat Covid-19, Rudy menegaskan, pihaknya tidak akan melakukan refocusing dana. Hal itu karena anggaran untuk penanganan Covid-19 di Garut masih sangat aman. Pemkab Garut masih memiliki dana belanja tidak terduga (BTT) berkisar Rp10 miliar-Rp12 miliar. 

"Masih aman. Sangat aman. Anggaran sangat aman karena Garut ini anggarannya aman. Kami yakin tidak ada kekurangan apapun. Kami akan melakukan langkah efektif, efisien dan pertanggung jawaban yang baik penanganan covid19 ini. Obat kami kirimkan, dan kami belikan obat ini Rp2,5 milyar yang di distribusikan ke puskesmas-puskesmas," ujarnya. 

Akumulasi pasien positif Covid-19 di Kabupaten Garut sendiri, berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Garut hingga 16 Juni 2021 mencapai sebanyak 13.367 orang dengan sebanyak 585 orang di antaranya meninggal dunia. Sebanyak 9.692 orang dinyatakan sembuh dari Covid-19, sebanyak 557 orang masih dalam isolasi perawatan rumah sakit, dan sebanyak 2.530 orang masih isolasi mandiri.(zainulmukhtar)