Sikap Kami: Mari Bantu Garut

Sikap Kami: Mari Bantu Garut



TENTU saja, Bandung Raya harus mendapat perhatian karena pandemi Covid-19. Tapi, hemat kami, ada wilayah yang harus mendapat perhatian lebih. Wilayah itu adalah Kabupaten Garut.

Garut memang belum masuk zona merah. Tapi, perhitungan kita, itu tinggal menunggu waktu. Mungkin tak lama lagi. Sebab, persebaran kasus di sana memang mencengangkan kita.

Nyaris setiap hari, sejak usai libur lebaran, rekor terus bertumbangan di Garut. Jika bukan kasus positif harian, ya kematian harian. Kini, sudah 13.171 warga Garut yang pernah dan sedang bergulat dengan Covid-19, 582 (atau 585?) di antaranya meregang nyawa. Artinya, 13% dari total kematian di Jawa Barat.


Bayangkan, hanya dalam waktu 15 hari terakhir, terjadi penambahan sekitar 3 ribu kasus di Garut. Itu berarti hampir 25% dari total kasus yang ada sepanjang wabah Covid-19 berlangsung. Bukankah ini situasi yang mendekati gawat?

Penambahan kasus harian Garut tertinggi berasal dari rapid test antigen terhadap orang-orang terkait yang tertular. Itu bisa dibaca bahwa tracing dan testing berjalan baik. Tapi, bisa pula dimaknai sebagai kurangnya kepatuhan warga terhadap protokol kesehatan sehingga misalnya muncul klaster perkampungan sedikitnya di dua kampung di Garut.

Maka, kita memberi saran kepada Satgas Covid-19 Jawa Barat, untuk memberi perhatian yang lebih terhadap Garut. Ada kekhawatiran, jika tak bisa diturunkan, penambahan kasus ini akan membuat Satgas Garut dan tenaga kesehatan setempat akan sangat kesulitan. Kalau itu terjadi, Garut sungguh gawat.

Selain membantu Satgas Covid-19 dalam melakukan tracing dan testing, hal lain yang bisa dibantu Satgas Covid-19 Jabar adalah menetapkan Garut dalam posisi siaga 1, seperti wilayah Bandung Raya. Dengan begitu, regulasi yang ketat bisa diterapkan.

Garut memang termasuk wilayah yang tak terlalu kuat menerapkan protokol dan kehati-hatian. Kita maklumi, sebagaimana Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, Garut daerah wisata. Saat liburan lalu, terlihat betapa lemahnya kontrol secara umum di Garut. Terlebih, saat lebaran lalu, Garut termasuk paling banyak menerima kedatangan perantau.

Itu yang harus dipertegas. Garut tak bisa main-main dalam hal protokol kesehatan ini. Sebab, dalam waktu dan momen tertentu, persoalan kesehatan adalah ada di atas masalah perekonomian warga.

Kita ingin Satgas Covid-19 Jawa Barat ikut turun ke Garut. Menyelesaikan hal-hal yang belum bisa dituntaskan satgas setempat. Jika tidak, kita boleh khawatir, sekali waktu separo kasus harian Jabar justru muncul di Garut. (*)