Masjid Pendiri JNE Megah Berdiri di Bangka Belitung

Masjid Pendiri JNE Megah Berdiri di Bangka Belitung
istimewa



INILAH, Bandung - Rabu (9/6/2021) lalu merupakan hari istimewa bagi JNE. Masjid Jami Soeprapto Soeparno yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, Beluluk, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung akhirnya diresmikan setelah masa renovasi sejak 2018.

Saat itu, peresmian dilakukan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman. Dalam sambutannya, dia menyampaikan rasa kagumnya kepada sosok pendiri JNE Soeprapto Soeparno.

“Saya sangat kenal dengan sosok beliau, beliau sangat inspiratif. Masjid ini berperan besar dalam pembentukan karakter saya dan teman-teman saya di masa kecil dulu. Kami sering mengaji usai sholat maghrib di masjid ini. Saya berharap selain masjid ini dapat menjadi pusat ibadah bagi umat, semoga juga dapat diberdayakan sebagai penggerak ekonomi umat melalui program-program yang kreatif sehingga dapat menimbulkan pergerakan ekonomi bagi umat,” kata Erzaldi dalam rilis yang diterima, Jumat (11/6/2021).


Masjid tersebut pertama kali dibangun pendiri Soeprapto Soeparno pada 1979 silam. Dibangun di atas tanah seluas 1.405 m2 mampu menampung hingga 1.000 jamaah. Memiliki lokasi yang strategis menuju Bandar Udara Depati Amir-Pangkalpinang, masjid ini dikenal masyarakat sekitar sebagai masjid bandara. 

Memulai renovasi sejak Oktober 2018, saat ini tampilan menjadi sangat megah dan modern. Tampak sebuah menara berdiri kokoh disisi kanan masjid, menambah keagungan masjid bernuansa putih ini serta mmiliki dengan desain unik yang ada di Bangka Belitung.

Sementara itu, Presiden Direktur JNE M Feriadi Soeprapto menyampaikan, Bangka Belitung merupakan rumah bagi keluarga besar pendiri JNE. 

"Keberadaan masjid ini tentunya sudah menjadi semangat yang sudah sejak dahulu diinginkan almarhum bapak saya. Dahulu, bapak saya berpikir bagaimana caranya supaya warga disini punya tempat ibadah, punya tempat yang dapat mempersatukan semua warga disini," kata Feriadi yang merupakan anak kedua dari pendiri JNE.

Sedangkan, arsitek masjid Raul Renanda Amrul menuturkan filosofi bangunan itu mengaitkan perubahan lama menuju ke regenerasi yang baru. Menurutnya, bangunan menara yang lama di sisi sebelah kanan masjid sebagai simbolisasi meninggikan orang tua. Menara setengah lingkaran di belakang menara semula dengan lebih tinggi dengan makna anak-anak atau generasi baru dari almarhum yang melindungi orang tuanya. (*)