Alun-alun Memikat, Pelaku UMKM Pun Terangkat (4)

Alun-alun Memikat, Pelaku UMKM Pun Terangkat (4)



SEJUMLAH alun-alun di Jawa Barat dilengkapi fasilitas buat UMKM. Bisa offline, tapi lebih diharapkan online.

Mengenakan baju dinas berwarna cokelat, Nashrudin Azis berkeliling salah satu ruang di Alun-alun Kejaksan, Selasa (8/6). Sekali waktu, dia ambil sebungkus penganan kerupuk udang dan dia angkat di depan orang yang mengelilinginya. Tak lama, dia pun sampai di gerai baju kaos. Dia angkat dan dia kasih jempol.

“Ini hari yang membahagian bagi kita,” kata Wali Kota Cirebon itu. Saat itu, dia baru saja meresmikan beroperasinya sentra UMKM Kota Cirebon. Lokasinya di Alun-alun Kejaksan.


Keberadaan sentra UMKM di Alun-alun Kejaksaan adalah upaya mengembangkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan fasilitas ini, mereka diharapkan bisa meningkatkan dan memperkenalkan produk asli Kota Cirebon, tak hanya kepada penduduk lokal, juga warga luar yang berkunjung ke alun-alun.

“Ide membangun sentra UMKM dengan revitalisasi Alun-alun Kejaksaan merupakan ide dan mahakarya yang hebat,” tambah Azis.

Alun-alun Kejaksan, kini tak hanya berfungsi membahagiakan warga secara batiniah. Dia menjadi sarana untuk ikut meningkatkan ekonomi warga. Sebelum sentra UMKM, sebelumnya sudah berdiri sentra kuliner yang berjejer di bagian belakang alun-alun Kejaksan.

Tak berhenti sampai di situ, Pemerintah Kota Cirebon pun akan berupaya “menjual” Alun-alun Kejaksaan dalam konteks kepariwisataan. Mereka berupaya mendatangkan lebih banyak orang ke alun-alun sehingga kehidupan ekonomi melalui sentra UMKM dan kuliner bisa lebih menggeliat.

“Harapannya nanti, para wisatawan yang datang, bisa membawa pulang produk UMKM untuk dijadikan cindera mata,” tambahnya.

Sentra UMKM dapat menampung 100 pelaku UMKM. Saat ini baru ditempati oleh 70 pelaku dengan produk yang dijajakan sebanyak 200 buah, baik berupa makanan, kerajinan tangan dan lainnya.

Sentra UMKM Alun-alun Kejaksaan, menurut Kepala DPKUKM Kota Cirebon, Maharani Dewi, dikelola enterpreneur muda. Sistem penjualannya pun ada yang offline, tapi boleh juga online.

“Bagi UMKM yang produknya dijual di sini, syaratnya pelaku memiliki KTP Kota Cirebon, punya surat keterangan usaha, atau nomor induk berusaha. Harus pula memiliki komitmen untuk memajukan UMKM Kota Cirebon,” katanya.

Alun-alun Kejaksan bukan alun-alun pertama di Jawa Barat yang memiliki sentra UMKM. Sebelumnya, Alun-alun Kota Depok yang sudah diresmikan tahun lalu, juga memiliki hal serupa.

Bedanya, Alun-alun Kota Depok hanya menyediakan ruang bagi UMKM sebagai gerai pamer produk mereka. Untuk pembelian, konsumen langsung berhubungan dengan kontak masing-masing pelaku UMKM.

“Gerai pamer disediakan bagi pegiat UMKM untuk mengenalkan produknya. Tapi, ini bukan untuk berjualan. Untuk pembelian, konsumen dapat menghubungi kontak masing-masing UMKM,” kata Wali Kota Depok, Mohammad Idris.

Karena hanya berfungsi sebagai ruang pamer, sentra UMKM Kota Depok dapat menampung pelaku UMKM lebih banyak. Idris menyebutkan lokasi tersebut bisa menampung hingga 1.000 UMKM.

Kehadiran sentra UMKM ini, meski sebatas gerai pamer, tetap disambut pelaku UMKM di Kota Depok. Pasalnya, sejak awal, yakni saat proses pembangunan alun-alun masih berjalan, mereka sudah menyuarakan permintaan agar pemerintah menyediakan ruang bagi pelaku UMKM.

Salah satu harapan itu sempat diapungkan Indira Mulyawan, wakil dari pelaku UMKM Pancoran Mas. Dia menyatakan produk yang dihasilkan UMKM Depok bisa dipasarkan lebih masif melalui ruang pamer tersebut.

“Kami berharap tentunya bisa menjadi (sarana) display produk kami. Ini juga sebagai sarana untuk memperkenalkan produk-produk UMKM Kota Depok secara langsung ke tengah masyarakat,” sebut Indira. (ing)