Keren Alun-alunnya, Bahagia Warganya (1)

Keren Alun-alunnya, Bahagia Warganya (1)



ALUN-ALUN di wilayah Jawa Barat kian keren. Program revitalisasi, faktanya, meningkatkan kebahagiaan warga.

Hujan mengguyur Kota Cirebon selepas Magrib, Jumat pekan lalu. Orang-orang kemudian mencari tempat berteduh. Ada yang turun ke basement Alun-alun Kejaksan. Tak sedikit pula yang menyasar ke lokasi kuliner yang berada di komplek alun-alun itu sambil memesan nasi lengko, empal gentong, atau sekadar menyeruput jus maupun kopi.

Selepas hujan, sebagian di antaranya kembali ke lapangan utama alun-alun. Sekadar bermain atau berfoto selfie. Mereka memanfaatkan waktu tersisa menjelang alun-alun tutup pukul 20.0 WIB karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).


Alun-alun Kejaksan adalah alun-alun teranyar yang diselesaikan program revitalisasinya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Beberapa pekan sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, juga meresmikan Alun-alun Majalengka.

“Biasanya ramai yang datang. Mungkin karena sedang hujan,” kata Yani, seorang pedagang kuliner di Komplek Alun-alun Kejaksan.

Malam itu, selepas hujan, Yuyun dan dua anaknya memanfaatkan waktu tersisa untuk berfoto di sekitar alun-alun. “Enak di sini. Anak-anak bisa bermain bebas,” katanya.

Alun-alun Kejaksan kini memang tampil beda. Lebih tertata. Meski rumputnya belum sepenuhnya tumbuh, tak mengurangi keindahannya. Sejumlah tempat permainan bagi anak-anak tersedia. Spot selfie juga banyak. Salah satu yang jadi favorit adalah Candi Bentar yang berada di depan pintu masuknya.

Yani berkisah, saat Ramadan, alun-alun jadi tempat favorit warga kota melakukan ngabuburit. “Kalau bulan puasa memang lebih ramai. Banyak warga yang menunggu beduk Magrib di alun-alun,” katanya kepada Maman Suharman dari INILAHKORAN.

Di tenggara Cirebon, Alun-alun Kuningan juga berdiri megah. Masih ada proses pengerjaan tahap kedua, tapi alun-alun itu sudah ramai dikunjungi warga. Terlebih, alun-alun juga dihubungkan dengan jembatan gantng dari lokasi Masjid Syi’arul Islam nan megah.

Menjelang siang pada akhir pekan lalu, misalnya, banyak warga –utamanya ibu-ibu dan remaja-- yang memanfaatkan waktu luang ke alun-alun itu. Menikmati ketertataan alun-alun bersama keluarga.

Alun-alun Kuningan adalah sejarah panjang. Sebelumnya, di lokasi itu berdiri bioskop. Lalu, berubah fungsi jadi terminal –konon kawasan yang tak sedikit angka kriminalitasnya. Kemudian jadi Taman Kota sebelum direvitalisasi menjadi alun-alun yang tertata rapi.

Sepasang remaja asal Majalengka bahkan meluangkan waktu mendatangi Alun-alun Kuningan untuk menikmati hari-harinya. Lho, kok ke Kuningan? Bukankah Alun-alun Majalengka tak kurang gagahnya? “Cari angin saja,” kata mereka.

Alun-alun, atau taman (kota) lainnya, adalah salah satu pemicu tingkat kebahagiaan warga. Kota Bandung salah satu yang sudah membuktikannya. Tingkat kebahagiaan warga Kota Kembang terus naik setelah Pemerintah Kota Bandung melakukan revitalisasi alun-alun dan membangun sejumlah taman tematik pada kepemimpinan Ridwan Kamil.

Sebagai kota metropolitan dengan tingkat stres yang relatif tinggi, Kota Bandung memiliki cara agar warganya tetap nyaman tinggal di dalamnya. Taman, termasuk alun-alun, adalah salah satu jawabannya.

“Orientasinya menciptakan kota yang nyaman. Warga kotanya menjadi senang dan bahagia sehingga bisa meningkatkan index of happines,” kata Riela Fiqrina dua tahun lalu, kala itu masih Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Utilitas Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, Pertanahan, dan Pertamanan (DPKP3) Kota Bandung.

Kebahagiaan itu pulalah yang dicari anak-anak dan orang tua di Alun-alun Soreang, Kabupaten Bandung, akhir pekan lalu. Ada anak-anak yang bermain sepak bola, bola basket, bersepeda. Di sisi lain, nampak para orang tua, muda-mudi juga tengah jogging, senam atau hanya sekadar duduk-duduk di area taman alun-alun yang pagi itu cuacanya cukup cerah.

Pasca dilakukan perbaikan atau revitalisasi dengan berbagai penambahan bangunan dan fasilitas olahraga, Alun-alun Soreang seolah mempunyai daya tarik yang luar biasa. Masyarakat Soreang dan sekitarnya menjadikan alun-alun sebagai tempat untuk melakukan berbagai aktivitas, terutama untuk berolahraga dan  bersantai ria.

“Alun-alun Soreang yang sekarang jauh berbeda dengan dulu. Sekarang bersih, rapi dan tertata dengan baik. Begitu juga dengan fasilitasnya sangat menunjang berbagai kegiatan warga yang datang ke tempat ini,” kata Ade Rusli (48), salah seorang warga Soreang yang tengah berolahraga di jogging di Alun-alun Soreang.

Menurut Rusli, sekarang ini Alun-alun Soreang bisa dikatakan bikin betah siapapun yang datang ke tempat itu. Betapa tidak, selain terdapat lapangan dengan sarana olahraga seperti lapangan basket ball, papan panjat, alat-alat fitnes, jogging track dan lainnya. Di alun-alun ini juga banyak terdapat kursi dan bangku untuk duduk bersantai di bawah rindangnya pepohonan.

Tak hanya itu, di tempat ini juga didirikan sebuah bangunan yang atasnya berfungsi sebagai panggung dan di bawahnya terdapat fasilitas toilet. Ada juga musala dan tempat untuk berjualan para pedagang kaki lima (PKL) yang sebelumnya banyak tersebar di sekitaran Alun-alun Soreang.

“Kalau kita sudah lelah olahraga, bisa membersihkan diri di toilet. Termasuk kalau ingin beribadah ada musalanya. Nah kalau mau makan minum atau jajan juga di sekitar Alun-alun Soreang ini banyak pedagang,” ujarnya kepada Dani R Nugraha dari INILAH KORAN.

Untuk penerangan, lampu taman menghiasi sekeliling taman. Membuat lingkungan di Alun-alun Soreang menjadi lebih hidup dengan berbagai aktivitas positif warganya. Padahal, dulu jika malam hari, di sekitaran alun-alun ini kerap dijadikan tempat mangkal perempuan nakal dan para preman.

“Dulu memang citranya jelek. Suka dimanfaatkan oknum warga berbuat tidak baik. Kalau sekarang nggak karena ada penerangan di sekililingnya. Nggak ada lagi sudut-sudut tersembunyi yang gelap. Jadi lebih nyaman, aman, bersih serta tak ada lagi kegiatan yang tidak baik di tempat ini. Kami sebagai warga Soreang tentu menjadi lebih bahagia karena bisa beraktivitas di ruang publik yang nyaman dan menyenangkan,”ujarnya.

Hal senada dikatakan Sabrina (17). Remaja asal Desa Pamekaran Kecamataan Soreang itu sengaja setiap sore datang ke tempat itu untuk berolahraga bersama kawan-kawan sebayanya. Selain bermain basket, kawan-kawan Sabrina lainnya pun berolahraga lainnya dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di sana. Papan panjat dan peralatan fitnes menjadi peralatan olahraga favorit Sabrina dan kawan-kawannya.

“Pokoknya seru. Sudah olahraga, kita duduk-duduk nongkrong sambil ngobrol sama kawan-kawan. Setelah diperbaiki tempat ini jadi lebih asyik aja untuk dikunjungi,” katanya. (ing)