Pemprov Jabar Keluarkan SE untuk Pemda-pemda, Isinya Terkait Lingkungan Hidup

Pemprov Jabar Keluarkan SE untuk Pemda-pemda, Isinya Terkait Lingkungan Hidup
Istimewa



INILAH, Bandung-Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengeluarkan surat edaran (SE) bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup (HLH) atau World Environment Day yang diperingati setiap 5 Juni. SE tersebut diserahkan untuk kepala daerah beserta jajarannya khususnya masyarakat untuk mengambil peran dalam menjaga bumi. 

Diketahui, lingkungan hidup menjadi isu penting yang sudah jadi perhatian sejak lama. Banyaknya penebangan pohon memicu sejumlah potensi kerusakan alam yang berpotensi merusak ekosistem. Peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun ini menjadi momentum untuk melakukan penyesuaian berpikir dan bertindak.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Siti Nurbaya menilai,  saat ini memang tidak dapat mengembalikan waktu. Namun untuk menyikapi lingkungan dapat melakukan banyak hal. 


"Kita bisa menanam pohon, menghijaukan alam dan lingkungan, mengubah pola konsumsi, membersihkan sungai dan pantai, serta berbagai aktivitas positif lainnya dalam menjaga dan merawat lingkungan. Kita adalah generasi yang berdamai dengan alam," katanya. 

Dia mengungkapkan, ekosistem didefinisikan sebagai dinamika yang kompleks atas suatu komunitas tanaman, hewan dan mikroorganisme dan lingkungan nir-hayati yang berinteraksi sebagai unit yang berfungsi. 

"Ekosistem merupakan tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan satu kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup," katanya. 

Diketahui, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021 mengusung tema 'Ecosystem Restoration' yang sejalan dengan semangat dan langkah-langkah Indonesia dalam arti luas pengelolaan lingkungan dan kehutanan diantaranya restorasi dan rehabilitasi hutan serta kawasan guna mendukung upaya mengatasi krisis perubahan iklim. Kemudian, memastikan pengelolaan konservasi dan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. 

Secara praktis, restorasi ekosistem dilakukan pemerintah dalam kurun waktu 2015-2021, berupa pemulihan lahan dengan total area tidak kurang dari 4,69 juta hektare lahan dipulihkan termasuk gambut dan mangrove, dengan tujuan untuk peningkatan produktivitas ekosistem hutan dan lahan yang terdegradasi.

"Restorasi ekosistem juga dilakukan melalui bentuk Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE), salah satu bentuk pengelolaan hutan alam bekas tebangan atau logged-over area (LOA)," ujarnya.

Kegiatan Restorasi Ekosistem pada berbagai platform, kebijakan, operasional dan implementasinya berperan sangat penting dalam penurunan emisi karbon (GRK) maupun peningkatan stok karbon.

Indonesia sangat serius dalam pengendalian perubahan iklim melalui pengendalian laju deforestasi, penghentian konversi hutan primer dan gambut, serta penurunan kebakaran hutan dan lahan serta rehabilitasi hutan dan mangrove, ekonomi sirkuler, pengembangan energi baru dan terbarukan, proklim dll. 

"Dalam kaitan itu pula kebijakan pemerintah saat ini dan kedepan ialah mendorong dan untuk dapat memajukan pembangunan hijau, green economy, green energy untuk green industry serta bekerja sama dan kolaborasi dalam dan luar negeri, kemitraan global," paparnya.

Kemampuan dan optimisme Indonesia sudah dibuktikan dengan keberhasilan capaian seperti antra lain rendahnya tingkat deforestasi di tahun 2020, yaitu 115 ribu hektare per tahun dibandingkan dengan dua-tiga tahun sebelumnya 400 ribu hektare/tahun dan diawal 2000-an hingga 2-3 juta hektare/tahun. 

"Sektor Kehutanan akan mampu mencapai netral karbon di tahun 2030. Dan pada prospek lingkungan di sektor sampah juga sedang terus diupayakan penanganannya dengan sistem sampah menjadi sumberdaya dan dengan daur ulang serta ekonomi sirkular," terangnya.

Sebagai arahan jangka panjang yang akan menjadi pedoman dalam implementasi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta komitmen NDC lima-tahunan selanjutnya, Indonesia secara realistis telah terus menerus mempelajari dan dengan berbagai pengalaman secara realitas.

"Hingga saat ini sedang terus diupayakan untuk dapat betul-betul dicapai Indonesia Hijau tanpa emisi pada tahun 2060 atau mungkin juga bisa lebih awal lagi," jelasnya.

Hal yang tidak kalah penting dalam Restorasi Ekosistem dan ketahanan Iklim yang berkelanjutan adalah kesadaran dan kepedulian bersama dari seluruh elemen masyarakat. Demikian pula kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi yang masif dan sistematis menjadi keniscayaan untuk dijalankan semua pihak, baik pemerintah, pemerintah daerah, akademisi/ahli, dunia usaha, komunitas, LSM, dan komponen masyarakat lainnya.

"Peringatan Hari Lingkungan menjadi momen penting untuk terus menggugah, menumbuhkan, serta meningkatkan kesadaran dan kepedulian tentang ekosistem dan pengelolaannya secara optimal," katanya.

Siti menyebut, melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini diharapkan dapat menambah semangat kita untuk senantiasa terus memperbaiki diri dalam berperilaku adil terhadap lingkungan.

"Lingkungan yang sehat membutuhkan dukungan dan keterlibatan para pemangku kepentingan, khususnya di tingkat lokal, sehingga masyarakat berdaya dalam mengatur dan mengelola lahan tempat mereka dengan lebih baik," pungkasnya. 

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengajak para kepala daerah kota dan kabupaten serta masyarakat untuk sama-sama menjaga alam bertepatan dengan HLH Sedunia 2021 ini. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui menamam pohon dan memilah sampah. 

"Pada peringatan hari lingkungan hidup sedunia tahun 2021 ini saya mengajak kepada para kepala daerah dan jajarannya serta masyarakat Jawa Barat untuk terus menjaga bumi, rumah kita bersama ini," ujar Ridwan Kamil, Sabtu (5/6/2021).

Bilamana dapat menjaga bumi, menurut dia, maka bumi pun akan menjaga kita.

"Mari kita praktekkan gaya hidup ramah lingkungan yang kecil sampai yang besar demi kebaikan bumi kita," imbuhnya.

Emil -sapaan Ridwan Kamil mencontohkan gaya hidup ramah lingkungan antara lain menanam pohon dalam program one man one tree, memilah sampah organik dan anorganik, menyetorkan sampah ke bank sampah dan mengompos sampah organik. 

"Tujuannya adalah memulihkan bumi kita dalam mengatasi pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim," ucapnya. 

Sementara itu, kepada Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Emil menuturkan, sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, tantangan terkait pengelolaan lingkungan hidup semakin luar biasa. Maka, kolaborasi pentahelix yang menjadi keunggulan Jawa Barat sangat diperlukan untuk mengatasi tantangan tersebut. 

"Kerja sama yang kuat antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pusat khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, contohnya seperti di Citarum Harum diperlukan dalam upaya terus-menerus menangani permasalahan lingkungan hidup," tuturnya.

Hal itu guna mempercepat pertumbuhan, pemerataan pembangunan yang berbasis pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Adapun Kepala Dinas Lingkungan Hidup Prima Mayaningtias mengungkapkan, pihaknya meminta kepala daerah dan jajaran beserta masyarakat melakukan aksi kecil namun membawa perubahan besar bagi lingkungan. Khususnya dalam upaya memulihkan bumi dan mengatasi pemanasan global yang menyebabkan iklim lebih ekstream serta tanggap terhadap kondisi lingkungan.

"Pertama menanam pohon (one man one tree). Kedua, mengelola sampah sejak dari rumah. Ketiga menghemat air dan energi. Kemudian ke empat melakukan gerakan peduli dan berbudaya lingkungan di rumah," ujar Prima. 

Selanjutnya, menurut dia, upaya mengelola sampah sejak dari rumah menjadi hal yang  sangat penting. Terlebih Pemprov Jabar terus mengupayakan perluasan dan peningkatan kapasitas di TPA Sarimukti yang melayani pembuangan sampah dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung,  Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi. 

Namun dengan jumlah timbulan sampah yang semakin bertambah, mencapai hampir   ± 2.000 ton per hari, membuat TPA Sarimukti berada dalam kondisi overload. 

Selain semakin meningkatnya timbulan sampah, sarana dan prasarana yang terbatas pun menjadi kendala dalam pengelolaan sampah di TPA Sarimukti. Dibutuhkan peran semua pihak untuk dapat menekan jumlah timbulan sampah dari sumbernya, agar TPA Sarimukti dapat melayani pembuangan sampah hingga TPPAS Legok nangka beroperasi pada tahun 2023. 

Prima menambahkan, Momen HLH ini menjadi momentum kita untuk terus melakukan gerakan memilah sampah dari sumber yang dilakukan secara bersama-sama dan kompak bukan tidak mungkin alam dan bumi ini bisa kembali hijau dan sehat untuk ditinggali manusia.

"Kita galakkan gerakan kecil ini supaya lebih besar. Mari-kita jaga, rawat dan lindungi bumi pertiwi ini," pungkasnya.