Miliki Kasus Tertinggi se-Jabar, Kota Bandung Bidik Zero HIV/AIDS pada 2030

Miliki Kasus Tertinggi se-Jabar, Kota Bandung Bidik Zero HIV/AIDS pada 2030
istimewa



INILAH, Bandung - Pemkot Bandung terus berupaya menekan angka penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Sinergisitas berbagai pihak dibutuhkan untuk mengatasinya. Termasuk para camat yang mempunyai peran penting dalam program penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS di kewilayahan.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengatakan, kasus HIV/AIDS di Kota Bandung merupakan tertinggi di Jawa Barat. Yaitu sekitar 5.624 kasus dengan kenaikan sekitar 300-400 orang tiap tahunnya.

Menurutnya, peran camat di kewilayahan dapat membantu Pemkot Bandung dalam menekan angka penularan HIV/AIDS di Kota Bandung. Terutama untuk membina dan mengedukasi warganya. Tentunya, dengan mengacu pada Perda No 12/2015 tentang  Narkoba, Alkohol, Psikotropika, Zat Adiktif (NAPZA) dan Penanggulangan HIV/AIDS. 


“Tugas camat adalah memimpin, mengoordinasikan pelaksanaan dan memobilisasi sumber daya yang ada di kecamatan dan pembinaan program pemberdayaan masyarakat di kelurahan. Perda itu bisa menjadi acuan aparat kewilayahan dalam melakukan program pencegahan HIV/AIDS” kata Yana. 

Lebih lanjut, Yana mengungkapkan, pada 2030 Kota Bandung menargetkan zero AIDS. Sehingga perlu peningkatan pemahaman dan kerja sama dengan berbagai stakeholder khususnya di kewilayahan.

“Camat berperan dalam penanggulangan HIV AIDS. HIV/AIDS ini ada karena perilaku dan secara teori bisa diobati. Kota Bandung pada tahun 2030 target zero penyebaran AIDS,” ucapnya. 

Sementara itu, Ketua Forum Warga Peduli AIDS (WPA) Siti Muntamah Oded mengatakan dengan kolaborasi pentahelix yang kuat maka permasalahan AIDS bisa teratasi.

“Menguatkan dan mengarahkan para camat untuk membantu kader WPA dalam melacak warganya yang terkena AIDS, dan ditangani segera oleh Dinkes agar tidak menular,” kata Siti. (Yogo Triastopo)