Kejari Bandung Ringkus Deni Setelah Buron 8 Tahun

Kejari Bandung Ringkus Deni Setelah Buron 8 Tahun
Dokumentasi (ahmad sayuti)



INILAH, Bandung - Kejari Bandung akhirnya menangkap Deni Wardani (43) terpidana  kasus korupsi dana hibah tahun anggaran 2010, setelah 8 tahun dinyatakan buron.

"Yang bersangkutan kita tangkap setelah kurang lebih delapan tahun buron," kata Kajari  Bandung Iwa Suwia Prabiwa di kantor Kejari Bandung, Jalan Jakarta, Jumat (4/6/2021).

Penangkapan Deni dilakukan oleh tim Pidana Khusus dan Intel Kejari Bandung yang dipimpin Kasi Pidsus Taufik Effendi. Deni ditangkap di kediamannya, Kamis (3/6/2021) malam.


Ia mengungkapkan, selama buron Deni selalu berpindah-pindah tempat. Selama 8 tahun itu pula tim kejaksaan terus memburu Deni.

Selain itu, pihaknya saat ini tengah memburu seorang terpidana lainnya. Dia berinisial M dan dalam kasus yang sama dengan Deni. "Kami sampaikan juga agar segera menyerahkan diri. Kooperatif," kata Kasi Pidsus Taufik Effendi.

Kasus yang menjerat Deni terjadi pada tahun 2010 lalu. Saat itu, Pemerintah Kota Bandung menyiapkan anggaran sebesar Rp265 miliar untuk dibelanjakan sebagai dana belanja hibah kepada badan, lembaga dan organisasi swasta. Dalam kasus ini, Deni bertindak sebagai Ketua Pusat Kajian Lingkungan (PKL) selaku organisasi swasta.

Proposal yang diajukan itu, kemudian diverifikasi dan disetujui oleh Pemkot Bandung. Deni bersama rekannya berinisial M mengajukan dana masing-masing sebesar Rp150 juta.

Belakangan diketahui, proposal tersebut fiktif sehingga dana dari Pemkot Bandung tersebut menjadi penguasaan Deni dan rekannya.

Kasus yang menjerat Deni terjadi pada tahun 2010 lalu. Saat itu, Pemerintah Kota Bandung menyiapkan anggaran sebesar Rp 265 miliar untuk dibelanjakan sebagai dana belanja hibah kepada badan, lembaga dan organisasi swasta. Dalam kasus ini, Deni bertindak sebagai Ketua Pusat Kajian Lingkungan (PKL) selaku organisasi swasta.

Deni sendiri sudah diadili dalam kasus ini. Pada tahun 2013, kasusnya diadili dan sudah divonis dengan vonis 4 tahun penjara dan denda Rp50 juta subsidair 2 bulan penjara. (ahmad sayuti)