Komisi IV DPRD Suarakan Penyempurnaan PTM

Komisi IV DPRD Suarakan Penyempurnaan PTM
Foto: Rizki Mauludi



INILAH, Bogor - Komisi IV DPRD Kota Bogor menyikapi uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) yang digelar Pemkot Bogor, Senin (31/05/2021) kemarin. Wakil rakyat meminta agar siswa dan guru mematuhi protokol kesehatan (prokes) serta diharapkan para siswa bisa dilakukan swab PCR atau minimal swab anti gen saat ujicoba maupun menjelang dilakukan PTM.

Anggota DPRD Kota Bogor Ence Setiawan mengatakan, pihaknya mendukung PTM di Kota Bogo. Namun, dengan catatan angka Covid-19 terkendali dan diberlakukan prokes yang tertata sehingga esensinya benar-benar belajar tatap muka tentunya dengan waktu yang terbatas.

"Saya nitip pengawasannya harus benar-benar karena ini kan masih remaja terlebih nanti tingkat SD dan taman kanak-kanak. Disdik melalui para guru harus bisa mengawasi prokes para siswa," terang Ence kepada INILAH, Selasa (1/6/2021).


Ence juga mempertanyakan, untuk siswa apakah mereka telah dilakukan anti gen, kalau belum apakah ada anggaran untuk mereka. Karena menurut dirinya penyebaran Covid-19 bukan di sekolah tetapi itu dilingkungan, dikhawatirkan sekolah ini menjadi sarana lebih luas penyebaran Covid-19.

"Maka itu saya meminta Dinkes Kota Bogor juga turut andil dalam pengawasan bahkan apabila memungkinkan ada anggaran diberlakukan swab anti gen," tambahnya.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Kota Bogor lainnya, Jatirin menyebutkan kegiatan PTM harus dibarengi dengan disiplin prokes ketat dan tepat. Sebelum uji coba seharusnya siswa-siswi dilakukan swab PCR atau minimal antigen.

"Bagusnya sebelum dan sesudah uji coba PTM, artinya anak-anak yang mau mengikuti pembelajaran dipastikan tidak terpapar hingga apalagi menularkan kepada yang lain. Kalau tidak begitu, nanti ketika ada yang terpapar, kita tidak tahu darimana kenanya, sulit tracingnya," tegasnya. 

Dia melanjutkan, uji coba PTM ini jangan sampai siswa bereuforia sehingga mengabaikan Prokes yang seharusnya diperketat. Untuk itu kegiatan ini tidak bisa dilaksanakan sembarangan. 

"Siswa ini euforianya tinggi, senang masuk sekolah, bahkan guru-guru juga senang. Jadi harus ketat dilaksanakan prokesnya, ga bisa sembarangan," tambahnya. (Rizki Mauludi)