Bima Minta Fokuskan Dahulu Pemahaman Siswa tentang Covid-19

Bima Minta Fokuskan Dahulu Pemahaman Siswa tentang Covid-19
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto. (rizki mauludi)



INILAH, Bogor - Sebanyak sembilan sekolah dari jenjang sekolah menengah pertama (SMP) melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) untuk pertama kalinya di Kota Bogor pada Senin (31/5/2021). Bagi pelajar SD dan SMA, dijadwalkan kembali ke kelas pada akhir Juni mendatang.

"PTM tapi belum full materi, kami fokuskan dulu kepada sosialisasi tentang Covid-19," ungkap Wali Kota Bogor Bima Arya, usai menyambangi SMPN 15 Kota Bogor.

Bima juga mengatakan, sebelum diminta menaati protokol kesehatan (prokes) maka harus ada pemahaman tentang Covid-19. Untuk itu, dirinya mengaku memberikan penjelasan sederhana betapa berbahayanya jika tidak mentaati prokes.


"Kemudian, fase berikutnya ketika semua siswa sudah memahami dan menerapkan adaptasi kebiasaan baru di tengah pandemi Covid-19, baru fokus kepada materi dengan membatasi jam pembelajaran saat melaksanakam PTM. Itu pun terbatas, satu hari tiga jam dan kapasitasnya tidak maksimal," terangnya.

Bima juga meminta, kepada pihak sekolah agar selalu memonitor seluruh siswanya, termasuk oleh orang tuanya. Agar memastikan siwa yang mengikuti PTM dalam kondisi sehat, dan tidak sedang sakit.

"Jika ada gejala langsung ada tindakan, dan diminta tidak hadir dulu ke sekolah. Sekolah harus memiliki data, siapa saja anak-anak yang menggunakan angkutan umum ke sekolah. Tadi sebagian besar saya lihat jalan kaki, dan dijemput menggunakan motor hanya satu dua yang menggunakan angkot dan itupun kita akan atensi khusus," tutur Bima.

Bima membeberkan, selain persiapan teknis, sekolah juga harus sudah siap dengan fasilitas penunjang prokes, sehingga ketika ada kejadian maka sudah tidak bingung karena memiliki ruangan isolasi.

"Saya titip juga kepada guru untuk taat pada prokes jadi tetap jaga jarak, tidak bergerombol, tidak buka masker karena guru-gurunya harus paling sehat. Sebanyak sembilan sekolah saat ini menjalani PTM, dan bergantian dengan total 37 sekolah untuk jenjang SMP. Untuk SMPN 1 nanti 3 Juni 2021," bebernya.

Bima menekankan, tak ingin mengambil resiko terlalu banyak sekolah yang melaksanakan PTM.

"Kami tidak ingin serentak, karena terlalu beresiko, jadi sekarang pengenalana dulu sambil kami mempelajari titik lemahnya apa saja," tegasnya.

Bima menambahkan, sedangkan standar sekolah yang diperbolehkan PTM, pertama sekolahnya siap dengan fasilitas kesehatan, termasuk prokes. Kedua, ada ijin dari komite sekolah, ketiga hanya siswa yg diperbolehkan oleh orangtuanya untuk melaksanakan PTM, dan keempat mengisi ceklis ceklis yang disediakan kaitan prokes.

"Semua harus ada ceklisnya, misalnya jika tidak ada ruang isolasi ya ga bisa berarti ceklisnya tidak dipenuhi. Untuk jenjang SD akan dilakukan 21 Mei, yang saat ini masih melakukan verifikasi. Meski di beberapa daerah menghentikan sementara simulasi pembelajaran tatap muka (PTM). Namun saya tegaskan pembelajaran perdana secara langsung tetap dilakukan di Kota Bogor. Karena syarat-syarat sudah di penuhi semua, dan Kota Bogor sudah landai, tapi tak menutup kemungkinan kami akan evaluasi apabila dilapangan ada kejadian atau di Kota Bogor juga kurang baik," tambahnya.

Bima Arya juga mengaku, jika semua sistem untuk melaksanakan PTM sudah siap, apalagi tren kasus Covid-19 melandai. Tingkat hunian RS dibawah 20 persen, ini salah satu yang terendah di Jabar. (rizki mauludi)