KJRI Shanghai dan BI Beijing Gelar Forum Bisnis

KJRI Shanghai dan BI Beijing Gelar Forum Bisnis
Ilustrasi (Antara)



INILAH, Beijing - Konsulat Jenderal RI di Shanghai dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Beijing menggelar Forum Bisnis dan Investasi Indonesia (IBIF) secara virtual, Kamis (27/5).

"Forum ini diikuti kalangan pelaku usaha Indonesia dan China," kata Konsul Ekonomi KJRI Shanghai WP Gultom, Jumat.

Forum diskusi yang mengambil tema "Seizing Opportunities in the Food Processing Industry in Indonesia, Finding Your Business Partners" itu menghadirkan Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun, Wakil Gubernur BI Dody B Waluyo, staf ahli Menteri Investasi Indra Darmawan, Direktur Dewan Promosi Perdagangan Internasional China (CCPIT) Shanghai Laura Li Jie, Chairman Business Forum Indonesia Jahja B Soenarjo, pendiri Investment Networking Community-Shanghai Jimmy Zhang, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (GAPPMI) Adhi S Lukman, Chairman Indonesia Chamber of Commerce in China Region (INACHAM) Liky Sutikno, Kepala Kantor Perwakilan BI Beijing Arief Hartawan, dan Konsul Jenderal RI di Shanghai Deny W Kurnia.


Ada 162 peserta dari kalangan pelaku usaha pengolahan makanan, eksportir/importir produk makanan, dan perusahaan kawasan industri yang mengikuti forum secara daring tersebut.

Dari Indonesia ada pengelola pertanian dan pengolahan udang di Cilacap dan Puspa Agrobisnis dan Cokelat di Jawa Timur. Investor China pada bidang pengolahan sarang burung walet di Jambi juga hadir.

"Forum ini untuk mempromosikan potensi Indonesia sebagai negara agraris dan perikanan agar dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sektor industri pengolahan makanan," kata Gultom.

Indonesia dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa berkeinginan memperkuat basis industri pengolahan makanannya, baik untuk suplai kebutuhan konsumsi maupun ketahanan pangan domestik, termasuk juga untuk tujuan ekspor.

China sebagai mitra perdagangan dan investasi terbesar Indonesia saat ini dengan kapasitas dan keunggulan teknologinya dalam pengembangan industri pengolahan makanan dan minuman untuk pangsa pasar 1,46 miliar lebih penduduknya, tentunya berkepentingan untuk menjaga stabilitas pasokan kebutuhan konsumsi makanannya, demikian KJRI.

Indonesia menjadi salah satu negara yang sudah memanfaatkan peluang pasar ekspor ke China. Namun demikian, potensi Indonesia dalam pengembangan ekspor produk makanan olahannya masih belum terlalu besar dibandingkan produk-produk sejenis dari negara Asia lainnya yang masuk ke China.

"Dibutuhkan sinergi yang lebih besar lagi dari seluruh 'stakeholders' di Indonesia untuk memanfaatkan peluang ini melalui pengembangan sektor industri makanan olahan dengan mendorong potensi kerja sama perdagangan dan investasi dengan kalangan perusahaan China," kata Gultom. (antara)