Dengan AKB, Pasar Kaget 46 Terus Menggeliat di Tengah Pandemi

Dengan AKB, Pasar Kaget 46 Terus Menggeliat di Tengah Pandemi
Foto: Doni Ramdhani



INILAH, Bandung - Lebih dari setahun, pandemi Covid-19 masih belum juga usai. Meski demikian, sejumlah pasar kaget tetap memperlihatkan geliatnya. Salah satunya tampak di Pasar 46 yang berlokasi di Kecamatan Cibiru, Kota Bandung

Syamsudin RS (49), salah seorang pedagang pakaian di situ mengaku sudah hampir dari dua bulan Pasar 46 kembali beroperasi. Dulu, beberapa bulan saat pandemi mulai pasar yang berdekatan dengan lokasi SMPN 46 Kota Bandung itu sempat ditutup.

"Alhamdulillah, sejak Pasar 46 ini dibuka, dapur keluarga saya kembali ngebul. Dulu mah waktu awal-awal pandemi boro-boro ngebul, saya susah berjualan," kata pria berkumis tebal itu kepada INILAH, Minggu (23/5/2015).


Dia mengisahkan, pasar rakyat yang beroperasi setiap Minggu itu sempat ditutup karena ada kabar seorang pengunjung terpapar. Konon, yang terpapar itu dikarenakan ada seorang pengunjung lain yang tak menyadari terjangkit virus corona. 

Saat itu, sejumlah aparat kewilayahan pun dibuat kewalahan. Mereka melakukan tracing terhadap siapa pun yang mengunjungi pasar saat itu.

“Sejak ada kabar itu, Pasar 46 ini ditutup lebih dari dua bulan,” ucapnya.

Disinggung mengenai dibukanya kembali pasar tumpah itu, Syamsudin mengaku tak mengetahui persis. Sebab, sejak pemberitaan di media massa secara masif memberitakan penyebaran virus itu bisa dicegah keberadaan pasar itu pun kembali beroperasi.

“Intinya, para pedagang dan pengunjung di sini pakai masker dan menjaga jarak katanya kita bisa terhindar. Makanya, semua pedagang di sini pake masker semua,” sebut ayah dua anak itu.

Namun, namanya pasar, satu protokol kesehatan Covid-19 sulit dilakukan. Senantian menjaga jarak merupakan hal yang masih sulit dilakukan dalam masa adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Dari pantauan, mayoritas pengunjung mengenakan masker di wajahnya. Namun, karena pasar yang memanjang itu relatif sempit para pengunjung pun sulit menjaga jarak satu dengan lainnya. Terlebih, mereka yang berkunjung ke pasar rakyat itu kebanyakan berasal dari sebuah keluarga.

Dari informasi yang dihimpun, Pasar 46 itu secara resmi ditutup pada 13 September 2020 lalu. Camat Cibiru Didin Dikaryuana mengatakan, hal itu dilakukan menyusul adanya temuan warga sekitar yang terkonfirmasi positif Covid-19. Warga tersebut diketahui bermukim di Kompleks Vijaya Kusumah yang notabene menjadi pintu masuk Pasar 46.

Didin menambahkan, saat pasar mingguan tersebut dibuka ribuan orang memadati kawasan terserbut. Sehingga dirinya pun mengaku sulit untuk menerapkan protokol kesehatan khususnya jaga jarak.

“Biasanya ribuan orang datang, hampir sekitar 2 km jalan desa Cipadung itu ditutup oleh mereka. Jadi kami agak kesulitan untuk physical distancing. Nah sekarang per hari ini, kita coba untuk ditutup sementara,” ujarnya.

Dia menuturkan, saat melakukan penertiban pihaknya dibantu kepolisian dan koramil setempat. Terhitung ada 61 petugas yang terdiri dari polisi, TNI, dan Linmas diterjunkan guna menjaga ketertiban di wilayahnya.

Dia mengaku para pedagang merespons positif atas apa yang dilakukannya. Sebab, aparat kewilayahan memberikan pemahaman jauh-jauh hari. Selain itu, pihaknya tidak melakukan tes swab ke para pedagang lantaran mereka tidak berasal dari Cibiru.

Selain para pedagang, kembali beroperasinya pasar rakyat itu pun disambut gembira masyarakat. Sebab, kini para orang tua yang memiliki anak kecil bisa kembali pergi ke sana untuk membahagiakan buah hatinya.

Selain menjajakan kebutuhan pokok mulai dari sandang dan pangan, di Pasar 46 itu terdapat wahana permainan khas pasar rakyat. Namun, kini perubahan perilaku masyarakat tampak jelas terlihat. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun yang mengunjungi pasar tumpah itu melengkapi dengan masker di wajahnya masing-masing.

Susan (35) pun kini lebih aman beraktivitas di luar rumah. Bersama dua buah hatinya, dia berkunjung ke Pasar 46, Minggu (23/5/2021) pagi.

“Sekarang memang pandemi masih berlangsung. Asal kita menerapkan protokol kesehatan Covid-19, kita bisa terhindar kok. Memang, awal-awal pandemi saya juga merasa ‘parno’ dan ketakutan beraktivitas di luar rumah,” sebutnya yang saat itu menunggui anak-anaknya bermain kereta-keretaan.

Dari pantauan, kerumunan masyarakat memang masih terjadi seperti pemandangan khas pasar rakyat. Namun, kini ada jarak yang tidak terlalu berdesakan. Toh, mereka pun kita melengkapi dirinya dengan penggunaan masker wajah. 

Adaptasi kebiasaan baru (AKB) di pasar rakyat itu pun terlihat dari beberapa fasilitas cuci tangan yang ditempatkan di sejumlah titik. Bahkan, di teras jajaran rumah yang terlewati pasar itu pun menyediakan fasilitas cuci tangan secara mandiri di luar rumah yang bisa dijangkau para pengunjung.

Semoga dengan penerapan protokol kesehatan mulai dari memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M) di Pasar 46 itu para pedagang dan pengunjung terhindar dari Covid-19. (Doni Ramdhani)