Vaksin Astra Zeneca Diuji Ulang di BPOM

Vaksin Astra Zeneca Diuji Ulang di BPOM



INILAH, Jakarta - Pemerintah melakukan penghentian sementara distribusi vaksin Covid-19 AstraZeneca batch CTMAV547. Penghentian sementara distribusi vaksin Astra Zeneca batch CTMAV547 itu merupakan bentuk kehati-hatian. 

"Kalau kita lihat kemarin Kementerian Kesehatan menunda distribusi salah satu jenis vaksin yaitu Astra Zeneca CTMAV547 ini dikaitkan karena kehati-hatian," kata Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Nadia Tarmizi dalam Dialog Produktif KPC-PEN bertajuk Vaksinasi Gelombang Ketiga Dimulai," Selasa, (18/5)

Dijelaskan olehnya, saat ini vaksin AstraZeneca batch tersebut juga sedang dilakukan pengujian oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 


Hal ini menyusul adanya temuan Kejadian Pasca Imunisasi (KIPI) berat pertama yang meninggal pada 6 Mei 2021 lalu, sehari setelah menerima suntikan kedua vaksin AstraZeneca.

"Sedang dalam proses kajian dan investigasi dari Komnas KIPI dan salah satunya adalah mencari apakah vaksin yang disuntikkan kemarin itu benar-benar vaksin yang kualitasnya baik. Untuk itu dilakukan pengujian bukan berarti vaksin batch tersebut bermasalah, bukan. Justru kita ingin memastikan dan ini merupakan proses kajian yang akan dilakukan Badan POM sebagai bagian dari investigasi mencari apakah ada hubungan kasus KIPI berat tersebut dengan vaksin AstraZeneca tersebut, itu yang harus dipahami masyarakat," jelasnya.

Nadia menuturkan bahwa apa yang dilakukan pemerintah ini untuk menjamin keamanan vaksinasi dan bentuk kehati-hatian pemerintah sehingga masyarakat tidak perlu ragu untuk mendapatkan vaksin ini. 

Dia pun mengimbau masyarakat untuk tidak menunda vaksinasi karena mendengar isu atau informasi yang tidak benar atau tidak tepat. Padahal, kata dia, risiko sakit atau menjadi berat hingga kematian sangat besar jika masyarakat menunda vaksinasi COVID 19. 

"Vaksin ini memberikan perlindungan yang besar terhadap kesakitan dengan gejala berat dan kematian sampai di atas 95 persen. Jadi ini artinya jangan menunda vaksin, yakinlah bahwa pemerintah menyediakan vaksin yang aman. Dan tentunya dengan cepat divaksin kita  memberikan perlindungan kepada diri kita dan keluarga kita. Apalagi, sudah ditemukan varian baru di negara kita yang artinya segera memberikan perlindungan, salah satunya dengan divaksin," tutur Nadia.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa pemerintah menjamin vaksinasi yang diberikan ini adalah vaksin yang aman. Jika berbicara mengenai vaksin yang sudah digunakan adalah vaksin yang pasti sudah lulus uji klinis tahap 3 kemudian sudah mendapatkan izin penggunaan darurat dari BPOM. 

"Yang artinya penggunaan darurat itu termasuk mengkaji aspek keamanannya.Tetapi jika ada gejala setelah mendapatkan vaksinasi COVID-19, mulai dari gejala ringan hingga parah, masyarakat bisa melakukan pelaporan di contact center yang telah disediakan. Masyarakat bisa menghubungi nomor fasilitas kesehatan di kartu vaksinasi. Dan jika nomor tersebut belum bisa dihubungi, masyarakat bisa menghubungi Kementerian Kesehatan di nomor 119 ekstension 9 atau ke Dinkes DKI Jakarta. Layanan call center juga sudah bisa dilihat di situs corona.jakarta.go.id. sejak awal Januari 2020," tukasnya. (Reza Zurifwan)