Al Aqsa Artinya Jauh dari Makkah

Al Aqsa Artinya Jauh dari Makkah



PENUTUPAN paksa Masjid Al Aqsa oleh Israel melukai umat Islam, tidak hanya di Palestina tapi juga di seluruh dunia.

Masjidil Aqsha adalah salah satu tempat suci umat Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di kawasan Baitul Maqdis, Kota Yerusalem Timur.

Di depan bangunan masjid yang masih di kompleks Baitul Maqdis, terdapat bangunan kubah warna hijau yang dikenal sebagai Qubatush Sakhra atau Dome of Rock. Bangunan kubah ini untuk melindungi batu hitam Sakhrah Muqaddasah yang menjadi pijakan Rasulullah saat menuju Sidratul Muntaha.


Dalam kisah Isra Mikraj Rasulullah SAW, antara bangunan Masjidil Aqsha dan Sakhrah Muqaddasah ini menjadi bagian yang tak terpisahkan. Keduanya memegang peran penting dalam sejarah Islam, karena menjadi saksi sejarah perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.

Nama Masjidil Aqsha, bila diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, memiliki makna masjid terjauh. Istilah terjauh dalam pengertian ayat Alquran terjauh dari Makkah.

Nama Al Aqsha disebutkan dalam Alquran pada Surat Al Isra' ayat 1. Dalam ayat ini disebutkan bahwa Allah SWT telah memperjalankan Rasulullah SAW pada malam hari, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.

Berdasarkan nilai sejarah ini, Masjidil Aqsha menjadi tempat suci ketiga umat Islam setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Apalagi, Masjidil Aqsha juga pernah menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum datang perintah Allah kepada Rasulullah SAW untuk mengarahkan kiblatnya ke Baitullah (Kabah) di Masjidil Haram.

Dalam beberapa keterangan disebutkan, ketika Allah memerintahkan shalat menghadap ke Masjidil Aqsha, hal itu dimaksudkan agar umat Islam dalam shalatnya menghadap ke tempat yang suci, bebas dari berbagai macam berhala dan sesembahan. Ketika itu, kondisi Masjidil Haram masih belum berupa bangunan masjid. Sedangkan Kabah, masih dipenuhi berhala-berhala yang jumlahnya mencapai 309 buah dan senantiasa disembah oleh orang Arab sebelum kedatangan Islam.

Selain itu, bila pada masa tersebut Rasulullah SAW melaksanakan shalat yang menghadap ke Masjidil Haram, hal itu akan membanggakan kaum kafir Quraisy. Kaum Quraisy akan menganggap bahwa Rasulullah juga menyembah berhala-berhala mereka yang ada di Kabah. Inilah salah satu hikmah shalat umat Islam pada masa awal, masih menghadap ke Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsha.

Ketika Isra Mikraj terjadi, baik Masjidil Haram maupun Masjidil Aqsha, sebenarnya masih belum berupa bangunan masjid seperti yang ada saat ini. Di Masjidil Haram hanya ada bangunan Kabah, sedangkan di Masjidil Aqsha hanya ada Qibatush Sakhra. Saat itu, Al Shakhra masih berupa batu di atas gundukan tanah (bukit Moria) yang dipenuhi debu.

Bila kemudian Alquran menyebut bangunan dalam kompleks Baitul Maqdis sebagai masjid, adalah karena Alquran berpegang pada satu pandangan bahwa seluruh tempat ibadah agama tauhid disebut dengan nama masjid. Hal ini karena seluruh agama yang didakwahkan para nabi, pada awalnya merupakan agama tauhid.(Aljazzera)