SLBN Cicendo Kota Bandung Termasuk Bangunan Cagar Budaya

SLBN Cicendo Kota Bandung Termasuk Bangunan Cagar Budaya
istimewa



INILAH, Bandung - SLBN Cicendo Kota Bandung salah satu sekolah tertua kedua di Jawa Barat berdiri sejak 1932/1933. Sampai detik ini posisi bangunannya sangat terawat dan masuk kategori bagunan cagar budaya. Jumlah siswa dari TK, SD, SMP dan SMA itu ada 133 siswa. Memang sedikit berbeda perhitungannya dengan sekolah pada umumnya.

Ya, Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Cicendo Kota Bandung memiliki fasilitas yang terbilang lengkap. Lihat saja, mulai dari gedung kelas dan guru, kelas dan laboratorium, studio dan musala, aula kelas dan praktik, kelas dan TK, olahraga, SD, ruang dinas tenaga kebersamaan sekolah, ruang tinggu dan potocopy, Pos jaga Satpam, Kafe atau kantin sekolah, lapangan parkir, ruang terbuka hijau, lapangan upacara termasuk olahraga. Seluruh siswa bisa menggunakan fasilitas tersebut.


"Kategorisasi ruangannya sih tidak dibuatkan jumlah, tapi bangunannya sampai O. Secara umum jumlah rombongan belajar (rombel) kurang lebih kita di posisi 24 dan ruang guru ada satu," ujar Kepala SLBN Cicendo, Kota Bandung, Senin (17/5/2021).

Dia menuturkan, dari jumlah tersebut, seluruh siswa di SLBN Cicendo Kota Bandung dari segi fasilitasnya relatif lebih memadai dan mencukupi. Tantangan terbebesarnya lanjut Wawan, bagaimana pihak sekolah ini ke depan harus memenuhi dari sisi aksesibilitasnya. Misalnya,
pihak sekolah sudah menjalani ramah pada siapapun, termasuk didalamnya penyandang disabilitas.

Penyandang disabilitas pun tidak hanya tuna tungu, misalkan ketika ada teman-teman yang tuna netra ingin berkunjung kesini, pihak sekolah sudah mempersilahkan datang, termasuk bagi yang tuna daksa.

"Walaupun sekolah ini diperuntukan bagi mereka yang tuna rungu saja," kata Wawan.

Selain itu, pihak sekolah pun memiliki kurikulum keterampilan atau atau vokasi untuk siswa SMA. Misalnya, Tata Boga, IT dan lainnya, bagaimana anak-anak ini setelah lulus dari sekolah ini mereka bisa terserap di dunia kerja dan dunia industri (DUDIKA).

"Harapannya sih ke depan dari sisi regulasi, sudah memungkinkan anak-anak kita untuk memasuki DUDIKA tersebut, tinggal ada keinginan dan kemauan dan keberpihakan yang luar biasa," tegasnya.

Menurut Wawan, dari segi perawatan di SLBN Cicendo Kota Bandung sudah memadai dan mencukupi. Pemerintah sudah ada keberpihakan kepada seluruh sekolah, termasuk SLB. Perawatan yang sifatnya seperti gedung sudah tersedia, baik dari sisi penyiapan peralatan dan perlengkapan, melalui bantuan operasional sekolah (BOS) dan lainnya.

Termasuk dari sisi pemenuhan SDM, salah tenaga kebersamaan sekolah yang sekarang juga ada lima tenaga yang membantu dari sisi perawatan sekolah ini. Jadi pada persoalan itu, tidak ada masalah dari segi perawatan.


"Bagaimana sekolah ini terus menata dirinya, menghadirkan sekolah yang memenuhi delapan standar pendidikan terutama standar sarana prasana yang aksesibel bagi peserta didik penyandang disabilitas," pungkas Wawan. (Okky Adiana)