Bawa 500 Sertifikat, Dadang Sudah Kaya Sebelum Ikut RTH

Bawa 500 Sertifikat, Dadang Sudah Kaya Sebelum Ikut RTH
Foto: Ahmad Sayuti



INILAH, Bandung - Terdakwa kasus dugaan korupsi ruang terbuka hijau (RTH) Dadang Suganda mengklaim memiliki harta ratusan miliar. Semua sudah dimilikinya jauh sebelum adanya kasus penyalahgunaan RTH. 

"Saya samapaikan bukti-bukti bahwa saya menepis tuduhan JPU dan penyidik saya bukan makelar. Saya buktikan dengan aset-aset saya. Saya punya harta, punya uang, dan saya bukan makelar," katanya usai sidang pembuktian di Pengadilan Negeri (PN) Klas 1A Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis (6/5/2021). 

Dadang mengklaim semua harta dan kekayaan yang itu sudah dimilikinya jauh sebelum mengikuti program RTH. Bukti berupa sertifikat tanah itu diperlihatkan Dadang di persidangan di hadapan majelis dan jaksa penuntut umum. 


Menurutnya, ikut program RTH atau menjual tanah di RTH tidaklah disengaja. Dia mengaku menjual tanah untuk RTH karena pemerintah butuh, dan di sisi lain dirinya ingin ikut serta membantu program pemerintah tersebut. 

"Kita mendorong karena dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat. Hal-hal yang lain tidak ada. Saya buktikan, saya itu dari tahun 90an hingga 2010 sudah punya harta. (Memang) nilainya di bawah Rp1 triliun, melainkan ratusan miliar rupiah. Satu aset ada yang nilainya mencapai Rp200 miliar," ujarnya. 

Dadang pun berharap JPU mau melihat data dan fakta yang terungkap di persidangan, dan bisa membebaskannya dari semua tuntutan. Begitu juga saat putusan nanti, diharapkan dengan semua bukti yang terungkap ada keputusan yang adil, yang mematahkan dirinya dari tudingan makelar. 

"Yang harus jadi catatan, saya dalam hal ini bukan melawan pemerintah.  Saya memmpertahankan kebenaran yang saya yakini. Karena yang dituduhkan JPU tidak sesuai fakta persidangan dan yang saya lakukan.  Saya harap ada putusan seadil-adilnya sesuai fakta yang saya lakukan dan muncul di prsidangan," ujarnya. 

Sementara itu, kuasa hukum Dadang Efran menyebutkan bukti sertifikat yang diperlihatkan di persidangan jumlahnya mencapai 500 buah. Semua itu menjelaskan jika harta yang dimiliki Dadang sudah ada sebelum dia ikut terlibat dalam kasus RTH. 

"Semakin jelas bahwa Pak Dadang bukan calo atau makelar. Banyak aset di luar RTH. Jadi tidak ada kongkalingkong Pak Dadang dengan ASN Pemkot dalam RTH," katanya. 

Menurutnya, saat kliennya ikut RTH pun transaksi yang dilakukan secara normal. Tanah yang dimilikinya tidak bermasalah, dan sudah balik nama atas nama Pemkot sebagaimana dikeluarkan oleh BPN. 

"Ini harus jadi catatan. Ini bukan peristiwa pidana, peristiwa perdata. Murni orang jual beli, pada Dadang (swasta). Semua prosedur diikuti sesuai aturan, tidak ada yang diistimewakan," ujarnya. (Ahmad Sayuti)