Peserta Tes UKBI Adaptif Capai 10.000 Orang

Peserta Tes UKBI Adaptif Capai 10.000 Orang
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Prof Endang Aminuddin Azis. (antara)



INILAH, Jakarta - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebutkan jumlah peserta tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif Merdeka telah mencapai 10.000 peserta.

“Sejak diluncurkan pada akhir Januari 2021 lalu, jumlah peserta yang mengikuti UKBI Adaptif Merdeka ini terus meningkat. Datanya sudah mencapai 10.000 peserta,” ujar Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Prof Endang Aminuddin Azis, dalam siniar Pojok Dikbud : Kemahiran Berbahasa Menunjukkan Jatidiri dan Kemartabatan yang dipantau di Jakarta, Selasa.

Padahal sebelum UKBI Adaptif Merdeka yang diluncurkan, jumlah peserta tes UKBI dari 2009 hingga 2020 hanya 60.000 peserta. Sedangkan dengan UKBI Adaptif hanya dalam waktu tiga bulan jumlah peserta mencapai 10.000 peserta.


“Bahkan ada satu sekolah yang mengikutkan semua pengajarnya dan siswa untuk ikut UKBI Adaptif dengan jumlah peserta mencapai 1.250 orang,” terang dia.

Dia menambahkan masyarakat sangat antusias untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan UKBI Adaptif Merdeka dan juga ingin mengetahui kemahiran berbahasa Indonesia. Setiap pekan, lanjut Aminuddin, setidaknya ada 700 hingga 2.000 peserta yang mengikuti UKBI.

UKBI merupakan instrumen uji untuk mengukur kemahiran berbahasa Indonesia penutur bahasa asing. Pada 2020, Badan Bahasa telah melahirkan sistem UKBI daring seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan melahirkan UKBI Adaptif Merdeka. Pengembangan UKBI adaptif merupakan bentuk keberhasilan pemerintah dalam kemajuan pengembangan bahasan dan sastra melalui lompatan dalam hal desain dan layanan uji,

Aminuddin menjelaskan UKBI Adaptif berbeda dengan UKBI versi sebelumnya. UKBI Adaptif merupakan tes kemahiran berbahasa Indonesia yang berbasiskan komputer dan pengujiannya dilakukan berdasarkan kemampuan dari peserta. Hal itu terlihat pada jawaban peserta pada paket yang diberikan, yang dianalisis secara otomatis dengan menggunakan algoritma komputer,

“Kalau dulu kita mengikuti sebuah ujian atau tes apapun, selalu diberi soal yang sama. Tidak peduli penutur Bahasa Indonesia atau bukan, soalnya juga sama. Nah, sekarang kita ubah dan pengujiannya disesuaikan dengan tingkat kemahiran peserta. Tidak dipukul rata begitu saja,” terang dia.

Terdapat tiga perbedaan yang mendasar antara UKBI versi sebelumnya dengan UKBI Adaptif Merdeka. Pertama, desain uji yang mana sebelumnya setiap peserta mendapatkan paket lengkap yang terdiri dari 105 soal untuk tiga sesi uji mendengarkan, merespon kaidah dan membaca yang durasinya 95 menit. Pada UKBI Adaptif Merdeka itu, setiap peserta mendapatkan soal yang berbeda jumlahnya dan waktunya. Hal itu bergantung pada kemampuan dan estimasi peserta oleh komputer.

Kedua, pada UKBI Adaptif Merdeka disajikan dalam bentuk daring mulai dari pelaksanaan hingga sertifikasi. Sebelumnya, melalui kertas dan menggunakan komputer luar jaringan.

Ketiga, antara penguji dan peserta tidak harus tatap muka. Beda halnya dengan UKBI sebelumnya yang harus tatap muka. Pengujian dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja tanpa harus bertemu antara penguji dan peserta. (antara)