Ngabuburit Cerdas ala Pemuda 'Cartoon Village' Purbalingga

Ngabuburit Cerdas ala Pemuda 'Cartoon Village' Purbalingga
Antara Foto



INILAH, Jakarta- Istilah "ngabuburit" yang berarti aktivitas menunggu tibanya adzan maghrib menjelang berbuka puasa Ramadhan saat sekarang sudah umum digunakan di berbagai wilayah Indonesia, meskipun berasal dari bahasa Sunda (Jawa Barat).

Tidak terkecuali di Jawa Tengah, khususnya wilayah Banyumas Raya atau eks Keresidenan Banyumas yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara, istilah ngabuburit juga sering digunakan masyarakat setempat saat bulan Ramadhan 1422 Hijriah saat ini.

Bagi sebagian generasi muda, sering kali ngabuburit dengan cara jalan-jalan dan nongkrong di suatu tempat. Namun, tidak sedikit pula yang ngabuburit dengan melakukan berbagai kegiatan bermanfaat bagi mereka dan lingkungannya, seperti halnya yang dilakukan pemuda-pemudi Cartoon Village, Desa Sidareja, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga.


Mereka punya cara tersendiri dalam ngabuburit, yakni dengan melakukan berbagai aktivitas untuk mengembangkan bakat seninya melalui wadah kesenian bernama Art Space Kie Art, yang dikelola oleh dua orang pegiat seni, Slamet Santosa dan Gita Yohanna Thomdean.

Keduanya merupakan pendiri Kie Art Cartoon School yang diluncurkan pada bulan September 2020 sebagai upaya mewujudkan desa wisata Cartoon Village di Desa Sidareja.

"Kie merupakan kosakata bahasa Jawa yang berarti ini, sedangkan Art merupakan kosakata bahasa Inggis yang berarti seni. Jadi, Kie Art berarti ini seni," kata Slamet Santosa.

Setelah tujuh bulan berjalan, Kie Art Cartoon School tidak hanya mengembangkan Kie Kartun, juga Kie Wayang, Kie Akustik, Kie Teater, Kie Tari, dan beberapa kegiatan seni lainnya.

Akan tetapi khusus untuk pemuda-pemudi yang tergabung dalam Kie Kartun, selama bulan Ramadhan menghentikan sementara kegiatan mural pada rumah-rumah warga, sedangkan pembuatan sketsa tetap berlangsung.

Demikian pula dengan kegiatan seni lainnya tetap berlangsung seperti biasa sebagai bagian dari ngabuburit ala pemuda-pemudi Cartoon Village yang tengah merintis desa wisata itu

Bahkan dalam beberapa hari terakhir, latihan seni yang mereka laksanakan setiap menjelang waktu berbuka puasa dimaksimalkan. Semua itu sebagai persiapan untuk acara ngabuburit dan buka bersama dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2021.

Dalam acara tersebut, mereka berencana menampilkan seni gamelan, musik kentongan, dan sebagainya di halaman Kie Art Cartoon School sembari membagikan takjil gratis untuk warga sekitar.

Namun apa daya, rencana yang telah dipersiapkan dengan matang pun mengalami kendala karena sore itu, hujan lebat mengguyur Desa Sidareja dan sekitarnya. Tidak hanya hujan yang menjadi kendala, aliran listrik di desa itu pun padam.

Kendati demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat pemuda-pemudi Cartoon Village untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional sembari ngabuburit dan berbuka puasa bersama.

"Kami terpaksa mengubah skenario agar kegiatan tetap berjalan meskipun peralatan gamelan yang sudah tertata di halaman depan tidak bisa dimainkan karena diguyur hujan," kata Santosa.

Pemuda-pemudi Cartoon Village tetap membagikan takjil gratis kepada masyarakat meskipun sebagian atraksi kesenian tidak dapat ditampilkan di tempat terbuka, melainkan di dalam sanggar Kie Art Cartoon School.

Tetap semangat

Salah seorang peserta Kie Art Cartoon School, Mifta Awaliyah Sarino (18) mengaku senang karena rekan-rekannya tetap semangat berlatih tari Ujungan meskipun sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.

"Menari kan butuh energi yang besar, tapi mereka tetap mau berangkat latihan dan Alhamdulillah progresnya terus membaik," kata Koordinator Kie Tari itu.

Ia mengakui kegiatan latihan sembari ngabuburit pada bulan Ramadhan di Kie Art Cartoon School baru pertama kalinya digelar karena komunitas seni itu baru diluncurkan di Desa Sidareja pada bulan September 2020 atau beberapa bulan usai Ramadhan 1441 Hijriah.

Suasana latihannya pun sangat berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari sebelum bulan Ramadhan meskipun kegiatan latihan tetap dimulai pada pukul 13.00 WIB.

"Biasanya saat jeda latihan, kami bisa minum atau makan. Namun selama Ramadhan, waktu jeda latihan hanya diisi dengan duduk sambil menahan rasa haus meskipun merasa sangat lelah," kata perempuan yang akrab disapa Putri itu.

Bahkan, dia mengaku sangat beruntung dengan adanya Kie Art Cartoon School karena telah mempertemukan dan menyatukan pemuda-pemudi warga Desa Sidareja.

"Dulu sebelum ada Kie Art Cartoon School, kami enggak kenal satu sama lain, enggak pernah ada acara ngabuburit bareng. Saat itu, kami ngabuburit sendiri, jalan-jalan ke mana, tapi setelah adanya Kie Art, kami kumpul di sini, ngabuburit di sini, dan berkegiatan yang lebih bermanfaat," kata Putri, yang tengah berlatih tari Ujungan bersama rekan-rekannya.

Sama halnya dengan Putri, Koordinator Kie Kartun Anisa Rahma Nur Azizah (17) mengakui kehadiran Kie Art Cartoon School telah membuat generasi muda di Desa Sidareja menjadi lebih maju dengan mengasah talenta mereka.

Dengan demikian, pemuda-pemudi Desa Sidareja yang merupakan generasi milenial itu dalam mengisi kehidupannya tidak hanya dengan bermain gawai atau nongkrong yang tidak jelas arah dan tujuannya.

"Apalagi dengan momentum Ramadhan seperti sekarang, semakin asyik karena kami bisa ngabuburit di sini sambil menari, menggambar, dan sebagainya sehingga waktu menunggu berbuka puasa terasa enggak lama. Enggak cuma buat tidur di rumah," katanya.

Kie Art Cartoon School yang diluncurkan pada bulan September 2020 itu tidak semata-mata dalam rangka mempersiapkan hadirnya desa wisata Cartoon Village di Sidareja, juga sebagai upaya untuk menjawab kejenuhan anak-anak generasi milenial dalam menghadapi pembelajaran jarak jauh secara daring akibat adanya pandemi COVID1-19.

"Dari hasil penelitian E-Journal Bimbingan Konseling yang dirilis pada bulan Mei 2020 disebutkan bahwa siswa sudah mulai jenuh dengan pembelajaran daring setelah dua minggu belajar dari rumah, kecemasan yang cukup besar pada subjek penelitian yang orang tuanya berpenghasilan rendah karena harus membeli kuota internet untuk dapat mampu berpartisipasi dalam pembelajaran daring," kata pegiat Kie Art, Gita Yohanna Thomdean.

Meskipun bukan secara kebetulan, dia mengatakan hadirnya Kie Art Cartoon School yang didukung mentor dari kalangan pegiat seni dan mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Jawa itu justru dirasakan manfaatnya oleh para pemuda-pemudi di Desa Sidareja dengan berselancar menekuni dunia seni dengan spirit membangkitkan budaya dan tradisi desa mereka.

Para pemuda-pemudi yang notabene merupakan pelajar dan mahasiswa itupun dapat mempelajari berbagai kesenian setelah mereka mengikuti pembelajaran daring di rumah masing-masing, sehingga kejenuhan dapat terhapuskan karena seni itu menggembirakan.

Apa yang ditekuni mereka selama tujuh bulan di Kie Art Cartoon School pun mulai mendapatkan sambutan dari pihak luar. Bahkan, sejumlah sketsa yang dibuat oleh tim Kie Kartun telah disambut oleh sebuah perusahaan di Jakarta untuk bersinergi dalam karya serta mempersiapkan pameran perdana bagi mereka.

Kini, pemuda seni Kie Art sudah terbentuk dan siap menyongsong pembukaan Cartoon Village di Desa Sidareja dalam waktu dekat serta menyalurkan semangat kepada generasi muda lainnya untuk kembali mencintai budaya leluhur.