Berkah Dividen Bank BJB untuk Daerah 

Berkah Dividen Bank BJB untuk Daerah 
Istimewa



INILAH, Bandung- Sekali setahun, Ridwan Kamil wajib tersenyum. Setidaknya di kisaran April. Saat itu, pundi-pundi pendapatan masuk ke kas daerah. Sumbernya? Dividen atas penempatan saham di PT Bank Pembangunan Daerah Jabar dan Banten Tbk (BJBR).

Bank Jabar Banten (BJB) pada 6 April 2021, misalnya, menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) tahun buku 2020. Hasilnya ada laba bersih Rp1,7 triliun.

“Sangat besar! Dikembalikan ke kami sekitar Rp940 miliar. Itulah contoh perusahaan yang sehat,” kata Gubernur Jawa Barat itu.


Dividen senilai Rp940 miliar itu dibagikan kepada seluruh pemegang saham. Pemerintah Provinsi Jawa Barat kebagian yang terbesar. Maklum, mereka adalah pemegang saham mayoritas. “Itu akan masuk ke kas APBD kami, untuk dikembalikan kepada rakyat,” tambah-nya.

Sebagai gambaran, saat Bank BJB menebar dividen senilai Rp875,58 miliar pada tahun buku 2018, Pemprov Jabar kebagian Rp335 miliar. Tahun ini, angka tersebut sedikit di atas itu.

Dividen tersebut akan membantu Pemprov Jabar membiayai pembangunan. Cukup berarti karena nilainya tak sedikit. Di atas kertas, misalnya, bisa membiayai separuh pembangunan program rutilahu tahun ini yang totalnya Rp560 miliar untuk 31.500 unit rumah. Bisa pula membangun 200 unit SMA Terintegrasi. Atau, membiayai rehabilitasi jalan rusak sepanjang 50 kilometer.

Tidak hanya Pemprov Jabar, kabupaten/kota juga menerima dividen. Pemerintah Kabupaten Cirebon, misalnya, mendapatkan Rp5,4 miliar. “Al-hamdulillah, dividen yang kami terima cukup besar. Ini bisa untuk membantu pendapatan asli daerah (PAD),” ungkap Bupati Imron. Menurutnya, peran Bank BJB dalam kerja sama membantu pembangunan di Kabupaten Cirebon, sangat dirasakan. Bank BJB memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan di wilayah tersebut.

Imron menambahkan, saat ini jumlah saham yang dimiliki Pemkab Cirebon di Bank BJB adalah 56.121.123 lembar saham. 

Lalu, buat apa dividen itu akan dimanfaatkan? Imron menyebutkan keuntungan tersebut akan masuk ke pendapatan daerah lebih dulu. Setelah itu, akan digunakan untuk program atau kegiatan yang mendukung pembangunan.Imron tidak secara spesifik menyebutkan dividen akan digunakan untuk apa saja. Yang pasti, untuk program skala prioritas yang jadi target pencapaian Kabupaten Cirebon. Bisa masuk Dinas PUPR atau Dinas Kimrum untuk infrastruktur.

Tak tertutup pula mengalir ke dinas-dinas non teknis. Bisa saja, dana tersebut digunakan untuk penanganan Covid-19 melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial.

“Yang pasti, kalau sudah masuk ke pendapatan umum daerah, pasti digunakan untuk skala prioritas,” terang Imron.

Nilai dividen lebih besar didapatkan Pemkab Bogor. Tahun ini, mereka menerima sekitar Rp19,4 miliar. Beda dengan Cirebon, Bogor akan menggunakannya untuk memperkuat kepemilikan saham di Bank BJB.

“Akan kami belikan saham Bank BJB kembali. Namun, hal ini masih menunggu persetujuan DPRD Kabupaten Bogor,” kata Wakil Bupati Iwan Setiawan.Iwan menambahkan rencana pembelian saham BJB tersebut menunggu Peraturan Daerah (Perda) Pembelian Saham atau Penyertaan Modal di Bank BJB.
Mudah-mudahan pembelian saham tambahan Bank BJB bisa terealisasi di semester kedua di tahun ini di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P),” tambahnya.

Rupanya, Pemkab Bogor tertarik penawaran Penam-bahan Modal dengan Mem-berikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) yang diajukan Bank BJB. Divi-den yang didapat cukup un-tuk membeli saham seri B yang cukup signifikan.

Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi, mengatakan un-tuk menjaga rasio permodalan tetap pada rasio memadai, pi-haknya menyiapkan aksi penam-bahan modal. Pertama melalui PMHMETD atau rights issue seba-nyak 925 juta saham seri B baru dengan nilai Rp250 per saham.

“Ini pertama kalinya pe-megang saham mayoritas, yakni pemda, melakukan setoran modal kepada BUMD melalui PMHMETD,” kata Yuddy. Selain PMHMETD, Bank BJB juga membuka pilih-an kedua, penawaran umum berkelanjutan (PUB) berupa penerbitan obligasi subordi-nasi senilai Rp1 triliun.

Masuknya modal baru pe-merintahan daerah tidak ha-nya akan kian menguatkan posisi Bank BJB, sekaligus pada saatnya akan memberi-kan sumbangan dividen lebih besar bagi daerah. (*)