Mahasiswa MBA ITB Kaji Persepsi Publik terhadap Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Mahasiswa MBA ITB Kaji Persepsi Publik terhadap Kereta Cepat Jakarta-Bandung



INILAH, Bandung - Raidha Nur Afifah salah satu mahasiswa lulusan dari program MBA Sekolah Bisnis dan Manajemen  Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Angkatan 57, baru-baru ini melakukan penelitian tentang pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung dari aspek persepsi.

Riset tersebut dibawah bimbingan dosen senior SBM ITB, Yuni Ros Bangun dari kelompok keahlian People & Knowledge Management.

Menurut Raidha, dalam penelitiannya pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung menimbulkan berbagai persepsi positif dan negatif dari publik. Persepsi publik perlu dipertimbangkan karena publiklah yang akan menggunakan fasilitas ini ketika nanti kereta cepat tersebut sudah beroperasi.


"Kepercayaan afektif, keluhan, dan minat publik terhadap Kereta Cepat Jakarta-Bandung dapat mempengaruhi keberlanjutan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Dengan mengetahui persepsi publik, KCIC dapat memperoleh informasi dan masukan terhadap pelaksanaan kereta cepat ini," kata Raidha, Kamis (29/4/2021).

Hasil riset dari Raidha menjelaskan bahwa masyarakat mendukung, percaya dan setuju dengan keputusan pembangunan proyek ini. Riset ini menggunakan mix-method melalui survei pada 402 responden yang tersebar di wilayah Bandung dan Jakarta serta mewawancarai beberapa narasumber dari perusahaan KCIC.

Menurut hasil penelitian, ditemukan bahwa masyarakat tidak keberatan dengan kemacetan yang terjadi akibat proses pembangunan proyek karena diharapkan nantinya dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian dan mengurangi masalah kemacetan.

"Selain itu, mereka bersedia membeli tiket yang cukup mahal asalkan pelayanan yang diberikan aman, nyaman dan tepat waktu. Namun, mereka tidak setuju terhadap keputusan melakukan kerjasama dengan Tiongkok dalam pembangunan proyek ini dikarenakan kekhawatiran akan persepsi bahwa produk buatan Cina yang dianggap kurang berkualitas," paparnya.

Adapun alternatif solusi yang ditawarkan kepada perusahaan dalam permasalahan ini adalah perlunya meyakinkan masyarakat mengenai hal yang positif dari kerjasama perusahaan dengan Tiongkok.

"Oleh karena itu, upaya ini perlu dilakukan dengan iklan, bekerjasama dengan pihak ketiga seperti tokoh masyarakat, penyebaran informasi melalui media sosial, radio dan TV nasional, serta dukungan dari perusahaan konsorsium lainnya," pungkasnya. (Okky Adiana)