BPNT Makin Runyam, Permasalahan Diduga Ada di e-Warong

BPNT Makin Runyam, Permasalahan Diduga Ada di e-Warong
Foto: Maman Suharman



INILAH, Cirebon - Ricuh persoalan bantuan pangan non-tunai (BPNT) Kabupaten Cirebon, mulai mengerucut. Ternyata, hampir seluruh e-Warong yang ada di Kabupaten Cirebon diduga mempunyai utang kepada penyalur. Hal itu terungkap saat pertemuan dengan perwakilan Aliansi Masyarakat Pemerhati Pembangunan Sosial (AMPSP) Kabupaten Cirebon dengan Bupati Cirebon Imron.

Namun sebelumnya, perwakilan AMPSP sempat kecewa karena rencana awal audensi dengan Sekda Kabupaten Cirebon Rahmat Sutrisno dibatalkan. Audensi yang sudah diagendakan, ternyata dibatalkan secara tiba-tiba dan Sekda memilih untuk tidak menemui mereka. Karuan saja mereka sempat melampiaskan kekesalan dengan berteriak di ruangan Sekda.

"Kami kecewa, kenapa malah Bupati yang menerima kami. Mana tanggung jawab sekda terkait kisruhnya BPNT," kata Sunoko, Korlap AMPSP, Selasa (27/4/2021)


Namun, situasi semakin memanas kala Bupati meminta supaya dua perwakilan masuk ke ruangan kerja Imron. Sekda yang katanya ada urusan akhirnya dipaksa untuk menemui mereka dan memberikan penjelasan,didampingi Kepala Dinsos Dadang Suhendra. Dari hasil debat yang cukup alot, terungkap bahwa semua permasalahan ada pada e-Warong.

"E-warong tidak mau terima pak kalau ada penyalur baru di luar dua nama penyalur yang sudah memonopoli penyaluran BPNT," kata Ivan Maluana, perwakilan AMPSP.

Ivan juga memberikan informasi, selama ini memang kebanyakan e-Warong itu mempunyai utang baik berupa uang ataupun alat-alat penunjang komoditi. Namun, kata dia, benar tidaknya masalah utang itu harus diselidiki lebih jauh. Sebab, bisa saja masalah utang itu adalah bagian dari rencana supaya pemasok lama tidak tergantikan.

"Pemasok lama itu duitnya banyak. Berbagai macam cara mereka lakukan supaya penyalur tidak bisa diganti dengan yang baru," ungkap Ivan.

Sementara itu, Bupati Cirebon Imron menyebutkan kalau memang kenyataannya seperti itu penyalur komoditas lokal yang baru harus berani mengambil risiko. Mereka yang hendak mengganti pemasok lama harus mengganti utang yang diklaim e-Warong. Kalau mereka tidak mau, maka e-Warongnya saja yang harus diganti.

"Ini berarti masalahnya ada di e-Warong. Saya minta pemasok baru segera bayar semua utang mereka ke penyalur. Kalau mereka tidak mau, berarti ini hanya permainan. Jadi, ganti saja e-Warong yang membandel. Saya tidak mau masalah BPNT selalu ribut dan monopoli pemasok tidak terselesaikan," pinta Imron.

Dia mengancam, kalau setelah lebaran masalah BPNT masih belum selesai juga maka semua pejabat yang menangani BPNT akan dievaluasi. Bagaimanapun, BPNT pasti bersinggungan perut rakyat.  Dirinya tidak mau lagi mendengar BPNT menyisakan masalah, terlebih kualitas komoditi yang diterima masyarakat dan tidak sesuai aturan. (Maman Suharman)