Kementan Jaga Strategi Produksi Pangan Hadapi Lebaran 2021

Kementan Jaga Strategi Produksi Pangan Hadapi Lebaran 2021
ilustrasi/antara foto



INILAH, Jakarta- Kementerian Pertanian menjaga strategi produksi komoditas pangan untuk mengamankan ketersediaan terutama dalam menghadapi Lebaran  2021, kata Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri.

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis, ia mengatakan berbagai langkah strategis produksi dan distribusi pangan telah dipersiapkan Kementan.

“Ada 11 komoditas utama yang kami pantau secara ketat. Ketersediaannya kami pastikan tidak mengalami kekurangan, sehingga masyarakat aman dan nyaman menjalankan ibadah puasa dan menyambut lebaran,” kata Kuntoro.


Sebanyak 11 komoditas tersebut adalah beras, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai rawit, daging sapi/kerbau, daging ayam, telur ayam, gula pasir, dan minyak goreng. Kementerian Pertanian memantau 11 komoditas tersebut secara harian dan juga memantau kebutuhannya.

“Kementan punya sistem monitoring komoditas pertanian harian, baik aspek produksi maupun stok, termasuk harga, yang cukup baik menggambarkan kondisi riil di masyarakat. Dengan sistem ini kami monitoring daerah surplus dan defisit sehingga langkah antisipasi maupun supportif bisa dilakukan dengan cepat,” jelasnya.

Mengenai masih adanya beberapa komoditas yang belum sepenuhnya bisa dipenuhi dari dalam negeri, Kuntoro menilai upaya impor yang dilakukan pemerintah tersebut merupakan bentuk tanggung jawab untuk terus memenuhi pangan rakyat.

Kuntoro meyakini bahwa perlahan-lahan kebutuhan pangan yang masih disubstitusi dari negara lain tersebut akan dapat dipenuhi melalui kerja keras semua pihak untuk meningkatkan produksi dalam negeri dengan berbagai strategi yang dipersiapkan Kementerian Pertanian.

Selain itu Kuntoro menyebut saat ini industri pangan dalam negeri juga berkembang pesat, termasuk industri pangan berorientasi ekspor, sehingga beberapa bahan pangan dengan variasi jenis komoditas tertentu didatangkan dari luar.

“Sebagai contoh jagung, ada kebutuhan khusus impor turunan jagung yang volumenya kecil dibandingkan produksi nasional yang di atas 24,95 juta ton. Begitu juga beras khusus dan turunan beras, tidak sampai 1 persen. Kita masih bisa kendalikan ini,” jelas Kuntoro.

Kuntoro menilai adanya komoditas pangan untuk kebutuhan khusus ini malah menjadi peluang bagi petani lokal, bahkan start up pertanian dan petani muda yang inovatif untuk dapat memenuhi permintaan pasar dalam negeri yang yang terus meningkat.

“Penduduk kita terus bertumbuh. Industri pangan juga berkembang pesat. Bersyukur kita produksi pangan dalam negeri juga mampu memenuhi. Jadi mari kita fokus dan dukung terus pertanian Indonesia dengan energi positif dan menjaganya bersama. Jangan membuat polemik dan isu yang meresahkan petani, hingga membuat harga domestik hancur dan semangat mereka melemah,” kata dia. (Antara)