Eks Dirut PT DI Divonis 4 Tahun Penjara

Eks Dirut PT DI Divonis 4 Tahun Penjara
Foto: Ahmad Sayuti



INILAH, Bandung – Eks Dirut PT Dirgantara Indonesia (PT DI) Budi Santoso dijatuhi hukuman penjara empat tahun. Sementara mantan Asisten Direktur Pemasaran PT DI Irzal Rinaldi divonis selama tujuh tahun. 

Hal itu terungkap dalam sidang putusan kasus dugaan korupsi PT DI, di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata, Rabu (21/4/2021). Vonis yang dibacakan T Benny Eko Supriadi lebih ringan dari tuntutan JPU KPK. 

Dalam amar putusannya, T Benny Eko Supriadi menyatakan kedua terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi memperkaya diri sendiri dan orang lain, atau koorporasi secara bersama-sama dan berlanjut, sebagaimana dakwaan alternatif pertama. 


"Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Budi Santoso selama 4 tahun dikurangi masa tahanan, denda Rp 400 juta subsider kurungan selama tiga bulan, dan terdakwa Irzal Rinaldi hukuman penjara selama 7 tahun, denda Rp 800 juta subsider kurungan lima bulan," katanya. 

Selain itu kepada terdakwa Budi Santoso diharuskan membayar uang pengganti sebesar Rp  2 miliar atau diganti kurungan penjara selama 1 tahun dan 6 bulan. Kemudian untuk terdakwa Irzal diharuskan membayar uang pengganti sebesar Rp 17 miliar atau diganti kurungan penjara selama dua tahun. 

Hal yang memberatkan dan meringankan sebagai bahan pertimbangan majelis, yang memberatkan perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah, dan terdakwa dua sebagai mitra memperoleh keuntungan lebih besar.  Sementara hal yang meringankan, keduanya bersikap sopan, kooperatif, dan belum pernah dihukum.

Atas  putusan tersebut, kedua terdakwa dan kuasa hukumnya mengaku pikir-pikir. Begitu juga dengan tim JPU KPK pikir-pikir. 

Dalam dakwaannya, JPU KPK diketahui bahwa terdakwa satu Budi Santoso sebagai Dirut PT DI dan terdakwa dua Irzal Rinaldi sebagai kepala divisi pemasaran PT DI dan Asdir Hubungan Pemerintahan, yang melakukan atau turut serta melakukan kontrak perjanjian secara fiktif dengan mitra penjualan untuk memasarkan produk dan jasa PT. Dirgantara Indonesia (Persero).

”Dengan maksud untuk memperkaya diri sendiri, orang lain ataupun koorporasi,” katanya dalam dakwaan yang dibacakan secara bergiliran.

Perbuatan para terdakwa dilakukan bersama-sama dengan Direktur Aero Struktur PT DI Budiman Saleh (tersangka), Kepala Divisi Pemsaran dan Penjualan PT DI ARIE WIBOWO, Budi Waskito Dir Aircraft Integration, serta Dirut PT Abadi Sentosa Perkasa (ASP) Didi Laksamana. 

Perbuatan para terdakwa dilakukan dari tahun 2008 sampai November 2016, yakni melakukan kontrak perjanjian secara fiktif dengan mitra penjualan untuk memasarkan produk dan jasa PT. Dirgantara Indonesia (Persero), kepada Badan SAR Nasional (Basarnas), Kementerian Pertahanan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kepolisian Udara, Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad), Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal), dan Sekretariat Negara.

Padahal, lanjut Ariawan, semua itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, dan apa yang dilakukan para terdakwa telah memperkaya diri sendiri dan orang lain. Serta mengakibatkan negara mengalami kerugian negara (PT DI) sebesar Rp.202.196.497.761,42 dan USD8,650,945.27 . sebagaimana hasil perhitungan BPK RI.