Pengrajin Peci di Kampung Langonsari Terdampak Pandemi Virus Corona

Pengrajin Peci di Kampung Langonsari Terdampak Pandemi Virus Corona
Antara Foto



INILAH,Bandung- Para perajin peci hitam atau kopiah di sentra perajin peci di Kampung/Desa Langonsari Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Bandung terdampak pandemi virus corona. Biasanya, bulan Ramadan dan hari Raya Idul Fitri adalah masa "marema" bagi mereka, namun saat ini justru produksi anjlok hingga sekitar 40 persen dari biasanya.

"Sebenarnya pesanan tetap ramai, cuma enggak seperti dulu. Sekarang ini turun sekitar 40 persen dari biasanya, kalau beberapa tahun lalu, setiap bulan puasa itu yah rata-rata bisa produksi sampai 100 kodi. Nah kalau sekarang yah paling 40 kodi saja," kata perajin peci HM Toha Manis, Gamal Azhar, saat dihubungi melalui ponselnya, Selasa (20/4/2021).

Dikatakan Gamal, sebenarnya penurunan ini terjadi karena selama pandemi virus corona ini, para pelaku usaha banyak yang menunda atau bahkan menghentikan sementara produksi sambil membaca situasi. Begitu juga dengan pemesanan, sebelum tiba bulan puasa belum terlalu ramai. Padahal biasanya, sejak sebelum bulan puasa tiba mereka selalu kebanjiran pesanan.


"Kalau dulu sebelum Ramadan tiba kami sudah tidak terima pesanan. Nah kalau sekarang  kami masih terima pesanan satuan custom atau maksimal pesanan 10 potong. Dan memang sekarang itu pesanan datangnya kebanyakan setelah masuk puasa, jadi kebanyakan saya tolak juga karena enggak akan terkejar pekerjaannya dan juga stok bahan bakunya enggak akan cukup," ujarnya.

Gamal melanjutkan, di Kampung Langonsari dikenal sebagai sentra perajin peci hitam. Di kampung ini terdapat puluhan orang pekerja penjahit peci yang bekerja di lima orang perajin atau pemilik usaha pembuatan peci. Kelima perajin tesebut yakni HM Toha Manis, Harmonis, Melati, Tiga Negeri, dan Mutiara. Produksi peci dari kelima produsen itu bisa mencapai ribuan potong peci yang dijual ke semua pulau di Indonesia. Bahkan, pemasarannya menembus ekspor ke luar negeri.

"Nah kalau sekarang bukan saya saja, semua perajin juga kondisinya sama. Paling kalau ditotalkan dari lima perajin peci di kampung ini untuk bulan puasa ini sekitar 300 an kodi saja. Kalau sebelum ada pandemi, produksi dari lima perajin ini setiap puasa antara 500 hingga 1000 kodi," katanya.

Gamal juga mengeluhkan kenaikan bahan baku lokal sejak setahun terakhir ini. Jika ditotalkan, kenaikan bahan baku seperti kain lokal dan lainnya sudah mencapai 30 persen. Namun disisi lain, ia dan perajin lainnya belum berani melakukan penyesuaian harga. Karena memang daya beli masyarakat saat ini terus melemah akibat dihantam pandemi.

"Kami belum berani naikin harga, padahal bahan baku terus naik sepanjang tahun ini. Mungkin dalam waktu dekat ini saya juga akan melakukan penyesuaian harga," ujarnya.(rd dani r nugraha).