Mantap, Kabupaten Bandung Siap Jadi Sentra Kopi Arabika Indonesia

Mantap, Kabupaten Bandung Siap Jadi Sentra Kopi Arabika Indonesia
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Tisna Umaran. (Dani R Nugraha)



INILAH, Bandung- Kabupaten Bandung siap menjadi pusat bisnis arabika Indonesia. Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Tisna Umaran.

“Pemerintah harus mempersiapkan, jangan sampai petani itu tanam kopi rame-rame, tapi pas panen ternyata tidak laku,” kata Tisna di Soreang, Selasa (13/4/2021).

Tisna mengatakan, bahwa saat ini beberapa petani kopi di Kabupaten Bandung sudah melakukan ekspor atau penjualan keluar negeri, tapi jumlahnya masih relatif sedikit yaitu dikisaran lima kwintal hingga satu ton saja. Pemerintah Kabupaten Bandung berharap jumlah ekspor kopi lebih besar dan masif.


“Pemerintah bukan pebisnis, jadi harus dikelola oleh lembaga bisnis profesional, bikin perseroan terbatas (PT) nya. Supaya bisa lebih besar lagi," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Bandung akan bekerjasama dengan perbankan untuk membentuk bisnis plannya. Selain itu, Dinas Pertanian Kabupaten Bandung juga akan meminjam gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda).

“Jadi bisnis plan dikelola oleh manajer profesional. Sekarang PT nya belum punya modal, pinjem kantor Dekranasda. Udah dikasih pinjam tinggal jalan, tapi nunggu bikin kantor baru di Solokan Jeruk,” ujarnya.

Nantinya di Solakan Jeruk itu, kata Tisna, akan diberi namanya Center Excellent. Jadi selain untuk kantor, juga ada gudang kopi hingga lantai jemurnya.

“Contoh kasus yang sederhana, setiap tahunnya ada petani yang kirim 700 ton kopi ke Medan. Jadi itu nanti yang 700 ton enggak usah ke Medan, disini saja dijualnya langsung,” katanya.

Dikatakan Tisna, jika jumlah luas lahan kopi yang dipanen bertambah maka petani akan kesulitan untuk memasarkannya. Oleh sebab itu, pemerintah melakukan antisipasi agar harga kopi hancur. Karena kalau sampai harga kopi mengalami kehancuran maka petani akan lebih lebih memilih untuk menanam sayuran, misalnya sayur kol. Jika itu dilakukan maka dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan lingkungan.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Bandung juga berupaya agar produk-produk kopi yang dihasilkan oleh petani Kabupaten Bandung tidak dijual ke orang yang salah. Tisna mengaku sudah berkoordinasi dengan pasar Eropa, Turki hingga Iran.

“Kuncinya bagaimana produk itu terjual, jadi kemarin sudah dari Turki dan Iran, delegasi dagangnya sudah ada,” ujarnya.

Tisna mengungkapkan bahwa pemerintah Kabupaten Bandung dalam menciptakan suatu program itu untuk lima tahun kedepan. Harapannya, jika program ini bisa terlaksana maka Kabupaten Bandung bisa menjadi pusat bisnis arabika Indonesia.

“Sama orang awam mah berpikir bahwa ini bakal jadi saingan, enggak masalah,  masyarakat mah melihat hasilnya, kan ini belum kelihatan, kalau ada keluh kesah itu wajar, tinggal kita membuktikan,” katanya.(rd dani r nugraha).