Isilah Hati dengan Berdzikir

Isilah Hati dengan Berdzikir
Ilustrasi/Net



SALAH satu penyakit psikologis yang lumayan banyak pengidapnya adalah "lonely in the crowd" yang biasa diterjemahkan dengan merasa sepi di tengah keramaian.

Sepi ternyata tidak mengharuskan kesendirian tanpa ada orang lain di samping sisinya. Sepi bisa jadi merupakan kondisi psikologis yang resah, gelisah, atau galau dengan kondisi diri yang penuh pertanyaan tanpa jawaban atau penuh ketidakpastian di tengah uberan waktu.

Dalam perspektif psikologi agama, kesepian ruhani atau kesepian psikologis adalah akibat tiadanya Tuhan dalam hatinya. Hati yang berdzikir (bukan mulut) akan senantiasa terhibur dan terbebas dari sepi dalam kondisi apapun dan saat kapanpun.


Karena itulah maka dzikir menjadi kegiatan yang diperintahkan Allah untuk dilaksanakan sebanyak-banyaknya. Dzikir apa yang terbaik untuk kita merupakan pertanyaan lain dengan jawaban yang cukup panjang.

Di akhir khutbah Jum'at, khatib biasa menyatakan potongan ayat "wa la dzikruLLAHI akbar." Ada mufassir yang menyatakan bahwa potongan ayat itu bermakna bahwa dengan mengingat Allah maka semua permasalahan hidup menjadi kecil. Ada juga yang menafsirkan bahwa dzikir kepada Allah merupakan ibadah yang paling agung.

Ketika hati sudah tak berisi masalah, senyumpun akan mengembang. Ketika senyum mengembang maka semua yang ada di sekitar kita akan menyapa dengan sapaan terindah yang menghilangkan kesepian dan kegalauan.

Sepi akan terusir sendiri ketika Allah senantiasa bersama kita. Tak akan lagi ada tempat dan waktu yang berisikan kesepian yang bisa hadir karena beragam sebab. Ada kesepian karena ditinggal sendiri, ada kesepian karena ditinggal pergi seseorang walaupun masih ada orang lain di sampingnya, dan ada kesepian model terbaru, yaitu HP-nya mati karena habis batere, sementara orang di sekelilingnya asyik dengan HPnya sendiri-sendiri. Kasian, hehehe. Salam, AIM@Surabaya. [*]