Bisnis Makanan dan Minuman Lewat Startup

Bisnis Makanan dan Minuman Lewat Startup
ilustrasi



INILAH, Jakarta - Startup bidang makanan dan minuman masih menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan, terutama di tengah perkembangan ekonomi digital.

Hal ini membuat jumlah pelaku bisnis makanan dan minuman semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namun, mempertahankan bisnis makanan dan minuman tidak mudah.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) melansir jumlah penambahan UMKM rata-rata setiap tahun mencapai 1,4 juta pada 2010-2017.


Tak terbayang jumlahnya saat ini jika semua orang beralih menjadi wirausahawan. Tentu persaingan bisnis semakin ketat.

Karena itu, pelaku usaha perlu untuk mengasah ide dan inovasi produk masing-masing. Prinsipnya, agar mendapat tempat di hati konsumen.

Hal ini disadari Accelerice Indonesia, akselerator bisnis makanan dan minuman pertama di Indonesia.

Perusahaan yang hadir sejak Maret 2019 lalu itu bertujuan memberdayakan dan meningkatkan UMKM, termasuk menjadi pusat inovasi, hingga pusat pengetahuan pangan Indonesia bagi calon wirausahawan makanan dan minuman.

Melalui FSIA, 10 startup terpilih menjalani program selama 3,5 bulan yang terbagi dalam empat tahap, yakni introduction (1 minggu), business deep dive with industry experts (10 minggu), general business coaching, market validation dan internal pitching (4 minggu), dengan puncak acara Demo Day (1 hari) yang sekaligus menjadi penutup rangkaian program FSIA 4.

Selain itu, beberapa pakar industri dari perusahaan makanan dan minuman terbesar di Indonesia, seperti Nestl Indonesia, Indofood, dan Mayora Group, juga turut memberikan mentoring eksklusif yang membahas beberapa aspek penting dalam industri makanan dan minuman, sehingga para startup dapat semakin inovatif dalam menjalankan bisnisnya.

Mirna Handayani, Business Executive Officer - Beverages Unit PT Nestle Indonesia, menjelaskan strategi dalam price structure dan trade promotion.

Sementara, Axton Salim, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk menjelaskan mengenai marketing dan branding, dan Ricky Alfrianto, Global Marketing Head Mayora Group, membagikan informasi mengenai pentingnya melakukan aktivitas retail dan distribusi.

GrabFood merasa terhormat dapat berpartisipasi dalam Food Startup Indonesia Accelerator Batch 4 yang diadakan Accelerice Indonesia.

Tren pemesanan makanan online yang meningkat mendorong para pengusaha makanan dan minuman untuk melakukan transformasi digital dan meningkatkan kapabilitas digital demi menjawab kebutuhan pelanggan.

"Program tersebut sejalan dengan keyakinan kami bahwa pelatihan di bidang digital adalah faktor penting bagi kesuksesan para pengusaha makanan dan minuman. Saya berharap pelatihan digital marketing yang kami bagikan memberikan sudut pandang baru bagi para peserta. Kami senang dapat menyambut para peserta FSIA Batch 4 di platform GrabFood dan GrabMart," kata Hadi Surya Koe, Head of Marketing GrabFood, Grab Indonesia, Jakarta, Minggu, (04/04/2021).

Lewat program ini, Accelerice Indonesia juga memfasilitasi startup terpilih untuk mendapatkan bimbingan bisnis dari pakar ternama yang memiliki jaringan bisnis makanan dan minuman, seperti SIRCLO, Intudo Venture, ULTRA Indonesia, serta Jiwa Group (Kopi Janji Jiwa dan Jiwa Toast).

Pada pelaksanaan Demo Day tersebut, 10 startup terpilih mengirimkan produk mereka kepada tamu undangan.

Mereka diberi kesempatan untuk melakukan presentasi secara online mengenai detail usaha rintisan mereka di hadapan investor, tamu undangan dari industri makanan dan minuman, termasuk juga retail, distributor, serta Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM), dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

10 Startup tersebut akan mendapatkan fasilitas penunjang untuk validasi pasar, seperti akses untuk menggunakan Accelerice Kitchen untuk Research And Development (RnD) dan kesempatan untuk mendisplay produknya di Rak Sebelah dari Accelerice Indonesia selama 1 bulan.

Selain itu, mereka juga mendapatkan paket spesial enterprise partnership dan marketing asset penunjang penjualan produk dari Grab Indonesia selama 3 bulan, termasuk terdaftar dalam GrabFood & GrabMart.

"Melalui program ini, diharapkan dapat menghasilkan lebih banyak startup makanan dan minuman Indonesia yang menjadi salah satu brand ternama, terdepan dalam inovasi dan memiliki daya saing tinggi, sehingga tidak hanya berkompetisi di market Indonesia, tetapi juga di pasar luar negeri," tambah Charlotte.

Menteri Koperasi Teten Masduki menambahkan bahwa UMKM di sektor makanan dan minuman memiliki potensi yang luar biasa untuk dapat membantu bangkitnya perekonomian Indonesia.

Karena itu, diperlukan pengetahuan dan bimbingan dari mentor yang tepat, agar dapat mengoptimalkan potensi bisnis yang ada.

Melalui program Food Startup Indonesia Accelerator ini, berharap akan dapat membantu, mempersiapkan para peserta; UMKM makanan/minuman terpilih, untuk dapat beradaptasi, bertransformasi dalam situasi penuh tantangan pandemi ini.

Juga dapat dihubungkan dengan agregator/akselerator dalam ekosistem UMKM nasional, untuk pemastian keberlanjutannya.

"Tentu saja kami yakin hal ini juga akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia sekaligus dalam upaya mempersiapkan UMKM masa depan Indonesia di bidang makanan dan minuman," ungkap Teten.

Mengingat animo pendaftar yang tinggi, Accelerice Indonesia berencana menggelar program gelombang berikutnya, yakni FSIA 5. Program ini direncanakan akan digelar pada kuartal ketiga tahun ini.

Calon wirausaha dan individu yang tertarik dalam program akselerator food and beverage dapat mengecek media sosial Instagram @accelericeindonesia secara berkala untuk mendapatkan informasi terbaru.(inilah.com)