PLN Buka Skema Bisnis Pendirian SPKLU

PLN Buka Skema Bisnis Pendirian SPKLU
Foto: Doni Ramdhani



INILAH, Bandung - PLN akan memperluas titik stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) untuk kendaraan listrik. Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Bandung Majuddin mengakui di Kota Kembang ini hanya ada dua unit SPKLU yang beroperasi.

Dua lokasi itu yakni di komplek perkantoran UP3 Bandung Jalan Soekarno-Hatta dan satu unit lainnya berada di Gedung Sate. Menurutnya, keberadaan dua unit SPKLU itu relatif mencukupi dengan populasi mobil listrik yang belum signifikan.

“Sejauh ini, dua SPKLU itu bisa mengimbangi dengan populasi mobil listrik yang ada. Tapi, seiring perkembangan kendaraan listrik ini kita membuka pintu bisnis kepada pihak swasta atau masyarakat umum yang berniat mendirikan SPKLU mandiri,” kata Majuddin di Bandung, Selasa (30/3/2021).


Menurutnya, skema bisnis yang ditawarkan untuk pendirian SPKLU itu diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 13/2020. Dalam skema bisnisnya, SPKLU itu bisa dibangun dan dioperasikan PLN. Ada pula SPKLU yang dibangun dan dioperasikan pihak swasta atau masyarakat.

“Artinya, ke depan masyarakat umum dan swasta bisa membangun dan mengoperasikan SPKLU ini dengan skema bisnis yang ada,” sebutnya.

Disinggung mengenai pengguna SPKLU PLN UP3 Bandung, dia mengakui unit itu secara rutin dipakai dua orang pengguna mobil listrik. Kedua orang itu tinggal di kawasan Antapani dan Batununggal. Namun, terkadang di lokasi itu pun digunakan masyarakat luar kota yang kebetulan singgah ke Bandung dan ingin mengisi sumber energi mobil listrik. 

“Kalau yang di Gedung Sate itu SPKLU-nya digunakan secara privat. Karena gubernur memiliki mobil listrik untuk kendaraan dinasnya,” ujarnya.

Majuddin menambahkan, pada 2021 ini rencananya di Unit Layanan Pelanggan (ULP) Bandung Utara akan dibangun SPKLU tambahan. Namun, rencana itu mempertimbangkan penambahan populasi mobil listrik di sana. 

Sebelumnya, Manager Strategi Pemasaran PLN Aditya Darmawan menegaskan pihaknya akan mendukung terkait penyediaan SPKLU. Hal itu dilakukan sebagai komitmen untuk mendukung teknologi 4.0 terutama dari sisi kendaraan listrik dan mendukung elektrifikasi di Tanah Air. 

“Perlu diketahui, biaya pembangunan satu unit SPKLU itu memakan biaya sekitar Rp800 juta sampai Rp1 miliar. Memang mahal, tapi kami yakin keberadaaan SPKLU ini ke depannya akan memberikan dampak positif kepada masyarakat dan lingkungan,” sebutnya.

Seperti diketahui, kini teknologi kendaraan listrik semakin pesat berkembang. Sebagai penyedia energi listrik di negeri ini, PLN siap membangun SPKLU. Di setiap SPKLU itu socket yang ditancapkan ke kendaraan sesuai standar internasional. 

Artinya, setiap kendaraan rakitan Eropa, Amerika, dan Asia itu seluruhnya bisa diisi pasokan listriknya. Selain itu, sekali pengisian baterai hanya membutuhkan waktu selama 30 menit yang bisa menempuh jarak sekitar 55 km. Pengisian baterai di SPKLU itu pun menggunakan teknologi fast charging. (dnr)