Petani Milenial Cikal Regenerasi

Petani Milenial Cikal Regenerasi
Foto: Syamsuddin Nasoetion



INILAH, Bandung - Regenerasi petani merupakan kebutuhan mendesak. Supaya lebih menarik minat generasi muda, dibutuhkan inovasi yang relatif mengikuti perkembangan zaman.

Jabar sebagai kontributor produk pertanian terbesar di Indonesia menangkap peluang itu. Semua pihak dan para pemegang kekuasaan di Jabar kini sepakat memajukan sektor pertanian. Terlebih, di kondisi pandemi Covid-19 sektor pertanian merupakan industri yang relatif tahan banting.

Institut Pertanian Bogor (IPB) menilai konsep petani milenial yang diiniasi Pemprov Jabar relatif cocok untuk ditumbuhkembangkan. Rektor IPB Arif Satria mengatakan, program itu sesuai dengan kondisi tanah Jabar yang diakuinya memiliki lahan subur. Selain itu, provinsi ini ditunjang banyaknya perguruan tinggi. Plus, market yang skala permintaannya relatif tinggi.


“Di sektor pertanian ini memang Jabar membutuhkan regenerasi petani. Itu harus dilakukan untuk mewujudkan Jabar menjadi pusat inovasi pertanian modern Indonesia dan pionir di dunia,” kata Arif saat kick-off program petani milenial di Kampung Pasir Angling, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (26/3/2021) lalu.

Menurutnya, sebagai institusi pendidikan pihaknya diberi mandat Gubernur Jabar Ridwan Kamil untuk berperan di aspek teknologi. Untuk itu, pihaknya memiliki inovasi yang sejalan dengan revolusi industri 4.0 yang relatif mudah diaplikasikan. Selain itu, IPB pun diakuinya mencetak para petani sejak duduk di tahun pertama menjadi mahasiswa.

“Sejauh ini, sekitar 30% mahasiswa kami berminat jadi petani milenial. Kita siapkan mulai dari tahun pertama desain, tahun kedua business planning, tahun ketiga business mentoring, dan tahun keempat masa inkubasi bisnis. Kurikulum IPB pun menunjang agar para calon agropreneur itu bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Rencananya, dengan dukungan penuh Pemprov Jabar di sekitar Jonggol, Kabupaten Bogor akan didirikan IPB West Java Innovation Valley. Pembangunan itu akan mulai dilakukan pada 2021 ini.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar Herawanto meyakini inisiasi Pemprov Jabar itu sebagai motor untuk mempercepat pemulihan ekonomi yang terdampak pandemi. Dia mengatakan, sejauh ini pertanian merupakan sektor unggulan ketiga yang menyumbang ekonomi terbesar ke-3 di Jabar. Untuk itu, sektor pertanian membutuhkan kontribusi tenaga kerja muda yang memiliki intensitas pemanfaatan teknologi dan daya inovasi tinggi. 

“Apalagi, pandemi ini membuktikan sektor pangan dan teknologi itu relatif tahan banting. Kita mengharapkan Jabar ini menjadi kekuatan pertanian dengan teknologi,” kata Herawanto. 

Selain itu, dia mengaku konsep petani milenial tersebut ditangkap para pimpinan di BI pusat sebagai inisiasi yang relatif mumpuni. Artinya, jika program itu berhasil maka pemerintah pusat tinggal copy-paste di daerah lain. Dukungan ini mempertimbangkan sisi strategis program petani milenial selaras dengan tugas pengendalian inflasi, program pengembangan ekonomi dan UMKM, termasuk pengembangan ekonomi pesantren dan perluasan digitalisasi ekosistem ekonomi yang telah dan akan dilakukan BI.

Sedangkan, Gubernur Jabar Ridwan Kamil menegaskan program ini durasinya relatif panjang. Dia mengaku, dalam masa kepemimpinannya akan mencetak 100.000 petani milenial sebagai target. Pada kick-off tahun ini, pihaknya akan menyeleksi 5.000 petani milenial.

“Dari kuota itu, alhamdulillah sampai sekarang animo para milenial menjadi petani itu lumayan tinggi. Selama masa pendaftaran, terdapat 8.000 petani milenial yang berminat. Ini menunjukkan sektor pertanian dengan kecangggihan teknologi disukai para milenial,” sebutnya.

Pria yang akrab disapa Emil itu pun menjelaskan program petani milenial itu mendukung food security. Selain itu, program itu pun bisa menekan tingginya angka pengangguran yang terdampak Covid-19 secara relatif cepat. 

Secara konsep, program yang mengusung tagline “Tinggal di Desa, Rejeki Kota, Bisnis Mendunia” ini antara lain bertujuan mendorong regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian yang memiliki inovasi, gagasan, dan kreativitas. 

Melalui program petani milenial ini diharapkan akan menggerakkan kewirausahaan bidang agrikultur yang menjadikan wajah pertanian menjadi lebih segar dan atraktif dengan produktivitas tinggi dan berkelanjutan. (dnr)