Perekonomian Membaik, Jabar Juara Urusan Ekspor

Perekonomian Membaik, Jabar Juara Urusan Ekspor
net



INILAH, Bandung - Sekda Jawa Barat Setiawan Wangsaatmaja melaporkan perekonomian di Jawa Barat kini mulai mengalami kemajuan. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya ekspor, bahkan tertinggi di antara provinsi lainnya di Indonesia. 

Hal tersebut dia sampaikan usai rapat komite kebijakan penangan Covid-19 dan pemulihan ekonomi daerah di Gedung Sate, Kamis (25/3/2021).

"Alhamdulillah Jabar angka pertumbuhan ekspor di angka plus 7,9. Kita lebih baik dari Jawa Tengah dan Jawa Timur," ujar Setiawan.  


Selain itu, dia menyampaikan, terjadi peningkatan index recovery mobility dari 48 persen menjadi 58 persen. 

"Semoga bisa dipertahankan dan bisa lebih baik lagi untuk Jabar," ucapnya. 

Setiawan menambahkan, kasus aktif Covid-19 di Jabar pun cenderung menurun. Hal positif juga terjadi dari meningkatnya angka kesembuhan dan menurunnya angka kematian akibat Covid-19. 

Untuk itu, pihaknya mengucapkan terimakasih kepada Forkopimda yang sudah berupaya keras menekan penyebaran virus Corona. 

"Sekarang (kasus aktif) menurun di 11,37 persen, tingkat kesembuhan meningkat 87,7 persen, kematian di 1,24 persen. Artinya bahwa Jabar di bawah rata-rata angka nasional dan ingin sangat baik," paparnya. 

Sedangkan, untuk angka reproduksi efektif (Rt) Jabar saat ini di angka 0,73. Sementara referensi dari WHO sendiri, untuk angka Rt yaitu maksimum 1.

"berita baiknya terkait dengan tingkat keterisian tempat tidur di Jabar di angka 54,1 d mana rekomendasi WHO 65%," imbuh dia.

Adapun rasio kontak tracing, Setiawan menyebut, di angka 1:5. Sementara tingkat kepatuhan masyarakat, berhasil mempertahankan di atas 80 persen. "Baik yang tertib menggunakan masker dan juga menjaga jarak," katanya. 

Lebih lanjut, pihaknya bersyukur pada pekan ini tidak ada satu daerah pun di Jawa Barat yang masuk ada ketegori risiko tinggi penyebaran Covid-19. Artinya, dari 27 kabupaten kota di Jabar tidak ada yang masuk zona merah. 

"Tidak ada di 27 kota kabuten yang masuk ke dalam zona resiko tinggi atau yang berwarna merah dan mingu ini tidak ada yang masuk zona risiko tinggi," katanya. (Rianto Nurdiansyah)