Kenapa Jasa Sarana Pilih Jerman Mitra TPPAS Lulut Nambo?

Kenapa Jasa Sarana Pilih Jerman Mitra TPPAS Lulut Nambo?



INILAH, Bandung - Setelah sempat mengalami jalan berliku, proyek pembangunan TPPAS Lulut Nambo di Kabupaten Bogor dilanjutkan kembali. Hal tersebut menyusul BUMD Jasa Sarana telah menentukan Euwelle Environmental Technology GmbH sebagai mitra. 

Euwelle merupakan perusahan asal Jerman yang dinilai berpengalaman dalam pengelolaan sampah berbasis ramah lingkungan. Perusahaan tersebut telah menerapkan teknologi MYT (Maximum Yield Technology) di beberapa negara asia seperti China dan Thailand. Saat ini Euwelle siap bekerja sama dengan Indonesia untuk menerapkan teknologi tersebut khususnya pada Proyek Nambo di Jawa Barat.

Penggunaan Teknologi MYT dipilih karena kelebihannya dalam memanfaatkan secara maksimal proses daur ulang limbah sampah rumah tangga/perkotaan sehingga menghasilkan potensi energi maksimum yang dikombinasikan melalui inovasi teknologi tinggi dan terdiri dari lima tahap, diantaranya waste intake, mechanical processing, biological stage, biological drying dan mechanical material separation.


TPPAS Nambo adalah tempat pengelolaan sampah yang berdiri di atas lahan seluas 15 hektare dengan kapasitas sampah 1.800 ton perhari, diperuntukkan untuk mengelola sampah dari beberapa daerah Jawa Barat, termasuk di antaranya Kota dan Kabupaten Bogor, Kota Depok dan Kota Tangerang Selatan.

Beberapa output dari pengelolaan sampah rumah tangga  tersebut  berupa refused derived fuel (RDF), bulir pupuk, dan biogas. Produk RDF akan dijual sebagai bahan bakar ramah lingkungan untuk pabrik semen seperti Indocement dan, sementara bulir pupuk dapat dijual ke PT Pupuk Indonesia atau masyarakat sesuai harga pasar. Hasil ekstraksi berupa biogas pun dapat menjadi sumber energi terbarukan untuk pembangkit listrik demi menunjang tarif listrik EBTK yang lebih kompetitif melalui PLN.

"Pengolahan sampah yang ramah lingkungan ini merupakan pilot project persampahan pertama di Jawa Barat yang menggunakan teknologi pengolahan sampah modern," ujar Direktur Utama PT Jasa Sarana, Hanif Mantiq, Rabu (24/3/2021).

Hanif menyampaikan, skema Proyek Nambo berupa public private partnership (KPBU), yaitu alternatif pembiayaan selain APBD dari pemerintah.  Pihaknya juga telah menjajaki skema pembiayaan untuk pembangunan TPPAS Nambo melalui sumber pendanaan dengan sejumlah mitra.

"Kami bermitra  bersama IIF (Indonesia Infrastructure Finance), PT SMI (Sarana Multi Infrastruktur) dan Bank BJB," katanya.

Diketahui, konstruksi TPPAS Nambo akan dimulai pada tahun 2021 dan diharapkan dapat beroperasi secara optimal pada tahun 2022.

Pembangunan Pengolahan Sampah Modern di Nambo ini adalah wujud dari komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menyelesaikan permasalahan sampah regional perkotaan, dan semoga diharapkan dengan penerapan teknologi tinggi dalam pengelolaan sampah ini menjadi solusi dan menjadi contoh penanganan sampah di Jawa Barat maupun Indonesia.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menilai perusahaan Euwell Environtmental Technology yang kini akan mengelola TPPAS Lulut-Nambo sudah mengantongi tiga kriteria. Di antaranya memiliki teknologi yang sudah teruji. 

"Yang kedua dari sisi cost dia reasonable sehingga beban tipping fee ke kota kabupaten juga tidak terlalu besar," katanya, Selasa (24/3/2021).

Emil -sapaan Ridwan Kamil- menambahkan, pemilihan Euwell Environtmental Technology sebagai mitra Pemprov Jabar dalam mengelola Lulut-Nambo ini dilakukan secara profesional. Karena itu, dia berharap proyek pembangunan dapat berjalan lancar. 

"Karena Jabar sudah diputuskan semua sampahnya harus menjadi energi," harapnya.  

Emil menegaskan, Jabar harus menjadi provinsi yang sangat ramah lingkungan. Tidak ada lagi sampah yang tidak terdau ulang, dan semua jenis sampah dapat dibereskan. (rianto nurdiansyah/ing)